5/17/26

Siklus Perjalanan Seorang Trader

Belajar bahwa profit bukan hanya soal angka, tapi juga soal mental, disiplin, dan ketahanan diri.

Dunia trading sering terlihat indah dari luar. Banyak orang masuk dengan harapan besar: ingin cepat kaya, bebas finansial, dan hidup lebih tenang. Namun kenyataannya, hampir semua trader melewati perjalanan yang tidak mudah.

Berikut adalah siklus perjalanan yang sering dialami seorang trader dari awal mengenal market hingga mencapai fase konsisten.


1. Fase Awal - Penuh Harapan

Di fase ini, seseorang baru mengenal trading.
Biasanya mulai tertarik karena melihat profit orang lain di media sosial atau komunitas.

Ciri-cirinya:
Semangat belajar tinggi, Deposit kecil, mimpi besar, Percaya trading adalah jalan cepat sukses, Sangat optimis dan penuh rasa penasaran

Emosi: Optimis & polos


2. Fase Ego - Over Confidence

Setelah beberapa kali profit, mulai muncul rasa percaya diri berlebihan.

Ciri-cirinya:
Merasa sudah paham market, Mulai entry tanpa analisa matang, Lot semakin besar, Tidak disiplin dengan trading plan

Fase ini sering membuat trader lupa bahwa market bisa berubah kapan saja.

Emosi: Percaya diri berlebihan


3. Fase Kehancuran - Reality Check

Inilah fase ketika market mulai “mengajarkan kenyataan”.

Ciri-cirinya:
Loss beruntun, Akun terkena margin call, Menyalahkan market, broker, atau mentor, Mulai ragu dengan kemampuan diri sendiri

Di fase ini banyak trader mulai sadar bahwa trading tidak semudah yang dibayangkan.

Emosi: Frustasi & denial


4. Fase Capek - Burnout

Setelah mengalami tekanan mental dan kerugian, trader mulai lelah.

Ciri-cirinya:
Kehabisan energi mental, Ingin berhenti trading, Merasa trading bukan untuk dirinya, Kehilangan motivasi belajar


Banyak orang berhenti di titik ini karena tidak kuat menghadapi tekanan psikologis.

Emosi: Lelah & hampir menyerah


5. Fase Balas Dendam - Paling Berbahaya

Trader mulai ingin mengembalikan kerugian dengan cepat.

Ciri-cirinya:
Entry tanpa perhitungan, Tidak memakai stop loss, Trading berdasarkan emosi, Kerugian semakin besar

Fase revenge trading adalah salah satu penyebab terbesar akun hancur.

Emosi: Marah & kehilangan kontrol


6. Fase Kesadaran - Turning Point

Jika berhasil bertahan, trader mulai berubah cara berpikirnya.

Ciri-cirinya:
Mulai belajar risk management, Fokus menjaga modal, Tidak lagi mengejar profit besar, Menyadari pentingnya disiplin

Di fase ini trader mulai memahami bahwa bertahan lebih penting daripada terlihat hebat.

Emosi: Jujur pada diri sendiri


7. Fase Disiplin - Trader Dewasa

Trader mulai memiliki sistem yang jelas dan lebih tenang.

Ciri-cirinya:

Entry lebih sedikit tapi berkualitas, Tidak panik saat loss, Konsisten menjalankan plan, Tidak mudah FOMO

Profit mulai datang sebagai hasil dari proses yang disiplin.

Emosi: Stabil & dewasa


8. Fase Konsisten - Minority Zone

Ini adalah fase yang dicapai sedikit orang.

Ciri-cirinya:

Profit stabil, Mental lebih kuat, Tidak lagi pamer profit, Fokus jangka panjang

Trader di fase ini sadar bahwa trading adalah permainan probabilitas, bukan perjudian emosional.

Emosi: Tenang & percaya proses

Semua trader pasti melewati fase-fase ini.
Namun tidak semua mampu bertahan sampai akhir.

Trading bukan hanya soal mencari profit, tetapi juga tentang:
mengendalikan emosi, melatih disiplin, dan membangun mental yang kuat.

Karena pada akhirnya, market bukan hanya menguji strategi…
tetapi juga menguji diri kita sendiri.

3/4/26

Free Float 15% Kompromi Sehat atau Setengah Hati ?

 


Free float bukan istilah asing di kalangan investor atau regulator pasar modal, tetapi perubahan signifikan dalam proporsi free float yang diwajibkan belakangan ini memicu perhatian lebih luas. Mulai Februari 2026, Otoritas Jasa Keuangan bersama Bursa Efek Indonesia meningkatkan batas minimal free float saham dari sebelumnya sekitar 7,5% menjadi 15% bagi emiten yang sudah tercatat maupun yang akan melakukan penawaran umum perdana (IPO). Ketentuan ini direncanakan berlaku menyeluruh dan merupakan bagian dari reformasi pasar modal Indonesia.

Secara teknis, free float mengacu pada bagian saham yang dimiliki publik dan bebas diperdagangkan di pasar, bukan saham yang dimiliki oleh pemegang pengendali atau pemegang saham besar yang tidak berniat menjual dalam jangka pendek. Free float yang tinggi mencerminkan lebih banyak saham yang tersedia untuk dibeli dan dijual, sehingga umumnya dikaitkan dengan likuiditas yang lebih baik dan price discovery yang lebih sehat di pasar sekunder.

2/17/26

Ramadhan Datang untuk Mengubah Kita


 Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita umur, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita bisa berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan 1447 H. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan kita semua sebagai umatnya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Ramadhan bukan hanya tentang sahur dan berbuka. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

1/29/26

KUR DI PERSIMPANGAN PRINSIP DAN REALITAS

Oleh: Ahmad Fathullah, M.Pd

 

Perbincangan tentang Kredit Usaha Rakyat (KUR) selalu berulang di tengah umat. Program ini di satu sisi dipuji sebagai jalan keluar bagi pelaku UMKM, namun di sisi lain memunculkan kegelisahan keagamaan: apakah KUR sejalan dengan prinsip Islam atau justru bagian dari praktik riba yang diharamkan?

Sebagai Muslim, saya tidak bisa memandang persoalan ini semata dari sudut ekonomi. Ia adalah soal iman, etika muamalah, dan keberpihakan Islam pada keadilan. Dalam membaca persoalan ini, saya menemukan dua sudut pandang yang sama-sama saya hormati dan jadikan cermin berpikir: ketegasan prinsip ala PERSIS dan kepekaan sosial ala Muhammadiyah.


Hal pertama yang perlu ditegaskan: riba adalah persoalan serius dalam Islam. Larangannya jelas dan tegas. Bukan hanya karena ada tambahan dalam transaksi, tetapi karena riba menciptakan ketimpangan, menekan yang lemah, dan melanggengkan ketidakadilan.

About

Ahmad Fathullah, M.Pd
No.Hp : wa.me/6282143358433 (SMS/WA)
Alamat : Jl. Bulak Sari 1/59 Surabaya
Email : ad.fathullah@gmail.com
Fb : ahmad.fathullah.10
IG : a.fathullah94