Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah SWT yang masih memberikan kita umur, kesehatan, dan kesempatan sehingga kita bisa berjumpa kembali dengan bulan suci Ramadhan 1447 H. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, keluarga, sahabat, dan kita semua sebagai umatnya.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan haus. Ramadhan bukan hanya tentang sahur dan berbuka. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
Tujuan utama puasa adalah agar kita menjadi orang yang bertakwa. Takwa artinya merasa diawasi Allah, menjaga diri dari dosa, dan bersungguh-sungguh dalam kebaikan. Jadi jika setelah Ramadhan kita masih sama seperti sebelumnya, maka kita perlu bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita benar-benar mengambil pelajaran dari Ramadhan?
Ramadhan adalah madrasah perubahan diri. Selama satu bulan penuh kita dilatih untuk disiplin, sabar, dan taat. Kita dilatih bangun lebih awal untuk sahur, menahan emosi saat lapar, memperbanyak shalat, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Bayangkan, Ramadhan adalah kesempatan untuk mereset kehidupan kita. Allah memberi kita peluang untuk menghapus dosa-dosa masa lalu. Tetapi kesempatan ini tidak datang setiap saat. Ia hanya datang setahun sekali, dan belum tentu kita bertemu Ramadhan berikutnya.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Ada tiga hal penting yang perlu kita targetkan di bulan Ramadhan. Pertama, memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Ramadhan adalah bulan Al-Qur’an, bulan doa, bulan qiyamul lail. Allah berfirman, “Dan apabila hamba-Ku bertanya tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.” (QS. Al-Baqarah: 186). Di bulan ini, pintu langit terbuka, doa-doa diangkat, dan rahmat Allah turun tanpa batas. Jangan sia-siakan momen ini.
Kedua, memperbaiki akhlak. Puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan lisan, menahan amarah, dan menahan diri dari perbuatan dosa. Nabi ﷺ bersabda, “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh dia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari). Artinya, inti puasa adalah perbaikan karakter. Jika Ramadhan tidak membuat kita lebih sabar, lebih lembut, dan lebih jujur, maka ada yang salah dengan puasa kita.
Ketiga, menumbuhkan kepedulian sosial. Ramadhan mengajarkan kita merasakan lapar sebagaimana dirasakan saudara-saudara kita yang kekurangan. Inilah bulan sedekah, bulan berbagi, bulan memberi makan orang yang berpuasa, dan bulan memperhatikan anak yatim serta kaum dhuafa. Nabi ﷺ adalah manusia paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan. Maka jangan sampai Ramadhan berlalu tanpa kita berbagi kepada sesama.
Hadirin sekalian,
Nabi ﷺ juga mengingatkan, “Celaka seseorang yang menjumpai Ramadhan, namun dosa-dosanya tidak diampuni.” (HR. Tirmidzi). Hadits ini menjadi peringatan keras bagi kita. Di bulan ini pahala dilipatgandakan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Jika dalam suasana seperti ini kita masih enggan berubah, maka kapan lagi kita akan berubah?
Jadikan Ramadhan 1447 H sebagai titik balik kehidupan kita. Jadikan ia sebagai awal untuk memperbaiki shalat kita, memperbanyak tilawah, meninggalkan kebiasaan buruk, dan membangun kebiasaan baik. Jangan hanya menargetkan Ramadhan selesai tiga puluh hari, tetapi targetkan perubahan yang bertahan hingga Ramadhan berikutnya.
Semoga Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan terbaik dalam hidup kita, Ramadhan yang menghapus dosa-dosa kita, dan Ramadhan yang mengangkat derajat kita di sisi Allah SWT.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

No comments:
Post a Comment