6/13/16

Kecerdasan Emosional


1.      Pengertian Kecerdasan Emosional
Emosional dengan kata dasar emosi diambil dari bahasa latin emovere, yang diterjemahkan sebagai bergerak, menyenangkan, mengendalikan, atau mengagitasi. Sedangkan emosional sendiri dimaknai sebagai sesuatu yang berkaitan  dengan aspek apapun dari emosi; mencirikan keadaan, proses, dan ekspresi yang mengandung kualitas emosi.[1]
Emosi didefinisikan sebagai berbagai perasaan yang kuat berupa perasaan benci, takut, marah, cinta, senang, dan juga kesedihan.[2] Kecerdasan emosional atau emotional intelligence merujuk kepada kemampuan mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain. Kecerdasan emosional mencakup kemampuan-kemampuan yang berbeda, tetapi saling melengkapi dengan kecerdasan akademik.[3]
Emosi dan akal adalah dua bagian dari satu keseluruhan. Emotional Intelegence menggambarkan kecerdasan hati dan Intelectual Intelegence  menggambarkan kecerdasan akal/otak. Kecerdasan intelektual dan   kecerdasan emosional adalah  sumber-sumber daya sinergis tanpa yang satu yang lain menjadi tidak sempurna dan tidak efektif. Cerdas intelektual tanpa cerdas emosional, kita dapat meraih nilai A dalam ujian tetapi akan membuat tidak berhasil dalam kehidupan. Wilayah kecerdasan emosional adalah hubungan pribadi dan antar pribadi, kecerdasan emosional bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri, kepekaan sosial, dan kemampuan adaptasi sosial pribadi.[4]
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak  bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan lingkungan terutama orang tua pada masa kanak-kanak sangat mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional. Keterampilan EQ bukanlah lawan keterampilan IQ atau keterampilan kognitif, namun keduanya berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.[5]
Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari kecerdasan antar pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri. Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan secara efektif. [6]
Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar pribadi itu mencakup “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain”. Kecerdasan antarpribadi merupakan kunci menuju pengetahuan diri, dan akses menuju perasaan-perasaan diri seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku.[7]
Menurut Daniel Goleman, koordinasi suasana hati adalah inti dari hubungan sosial yang baik. Apabila seseorang pandai menyesuaikan diri dengan suasana hati individu yang lain atau dapat berempati, orang tersebut akan memiliki tingkat emosionalitas yang baik dan akan lebih mudah menyesuaikan diri dalam pergaulan sosial serta lingkungannya. Lebih lanjut Goleman mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan lebih yang dimiliki seseorang dalam memotivasi diri, ketahanan dalam menghadapi kegagalan, mengendalikan emosi dan menunda kepuasan, serta mengatur keadaan jiwa. Dengan kecerdasan emosional tersebut seseorang dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat, memilah kepuasan dan mengatur suasana hati.[8]
Berdasarkan uraian diatas, kecerdasan emosional mengaju pada kemampuan seseorang dalam mengkoordinasi suasana hatinya sehingga orang tersebut dapat menempatkan emosinya pada porsi yang tepat. Kemampuan tersebut meliputi; kemampuan seseorang untuk mengenal emosi diri, mengelola emosi, memotovasi diri sendiri, mengenal emosi orang lain (empati), dan kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain (ketrampilan sosial). Hal ini mengisyaratkan bahwa kemampuan dalam mengolah emosi inilah yang disebut kecerdasan emosional.
2.      Unsur-Unsur Kecerdasan Emosional
Adapun menurut Goleman terdapat 5 unsur kecerdasan emosional, diantaranya :
a.       Kemampuan Mengenali Emosi Diri
Kesadaran mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Mengenali emosi diri merupakan dasar kecerdasan emosional. Orang-orang yang  memiliki keyakinan lebih tentang perasaanya adalah pilot  yang andal bagi mereka, karena mereka memiliki kepekaan lebih terhadap perasaan yang sesungguhnya atas pengambilan keputusan-keputusan masalah pribadi.[9]
Ada tiga kemampuan yang merupakan ciri-ciri mengenali emosi  diri sendiri (kesadaran diri), yaitu:
1)      Kesadaran emosi, yaitu  mengenali emosi diri dan mengetahui pengaruh emosi itu terhadap kinerjanya.
2)      Penilaian diri secara teliti, yaitu mengetahui kelebihan dan kekurangan diri dan mampu belajar dari pengalaman.
3)      Percaya diri, yaitu keberanian yang datang dari keyakinan diri terhadap harga diri dan kemampuan sendiri.[10]
b.      Kemampuan Mengelola Emosi Diri
Menangani perasaan agar dapat terungkap secara tepat. Kecakapan ini tergantung pada kemampuan mengenali emosi  diri. Termasuk dalam kecakapan ini adalah bagaimana menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan, ketersinggungan dan akibat-akibat yang timbul karena gagalnya keterampilan emosional dasar ini. Orang-orang yang tidak cakap dalam keterampilan ini akan terus-menerus melawan perasaan murung, sementara mereka yang pintar dalam keterampilan ini dapat bangkit kembali dengan jauh lebih cepat dari kemerosotan dan keruntuhan dalam kehidupan.[11]
Ada lima kemampuan utama yang merupakan ciri-ciri mengelola emosi (pengendalian diri), yaitu:
1)      Kendali diri, yaitu menjaga agar emosi dan impuls yang negatif tetap terkendali.
2)      Dapat dipercaya, yaitu menunjukkan integritas dan kejujuran.
3)      Kewaspadaan, yaitu dapat diandalkan dan bertanggung jawab dalam memenuhi kewajiban.
4)      Adaptasi, yaitu keluwesan dalam menghadapi tantangan dan perubahan serta dapat beradaptasi dengan mudah.
5)      Inovasi, yaitu bersikap terbuka terhadap gagasan-gagasan, pendekatan-pendekatan dan informasi baru.[12]
c.       Kemampuan Memotivasi Diri Sendiri
Menata emosi sebagai alat untuk mencapai tujuan adalah hal yang sangat penting kaitannya dengan perhatian, memotivasi diri sendiri, menguasai diri sendiri dan untuk berkreasi. Mengendalikan emosi diri meliputi menahan diri terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati adalah landasan keberhasilan dalam berbagai bidang. Disamping itu mampu menyesuaikan diri  dalam flow (hanyut dalam pekerjaan) memungkinkan terwujudnya kinerja yang tinggi dalam segala bidang. Orang yang memiliki ketrampilan ini jauh lebih produktif dan efektif dalam hal apapun yang mereka kerjakan.[13]
Ada empat kecakapan utama dalam kemampuan memotivasi diri sendiri dan orang lain, yaitu:
1)      Dorongan berprestasi, yaitu dorongan untuk menjadi lebih baik atau memenuhi standar keberhasilan.
2)      Komitmen, yaitu menyelaraskan diri dengan sasaran kelompok/ lembaga.
3)      Inisiatif, yaitu kesiapan untuk memanfaatkan kesempatan.
4)      Optimis, yaitu kegigihan dalam memperjuangkan sasaran meskipun ada halangan dan kegagalan.[14]
d.      Kemampuan Mengenali Emosi Orang Lain (Empati)
Empati dapat dipahami sebagai kemampuan mengenali perasaan orang lain dan memahami perspektif orang lain. Empati adalah kemampuan merespon perasaan orang lain dengan respon emosi yang sesuai keinginan orang tersebut. Berempati terhadap perasaan orang lain dijadikan dasar untuk membangun hubungan interpersonal yang sehat.
Menurut Daniel Goleman ciri-ciri dari empati meliputi:
1)      Memahami orang lain, yaitu memahami perasaan dan perspektif orang lain dan menunjukkan minat aktif terhadap kepentingan mereka.
2)      Orientasi pelayanan, yaitu mengenali dan berusaha memenuhi kebutuhan orang lain.
3)      Mengembangkan orang lain, yaitu merasakan kebutuhan orang lain untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan mereka.  Mengatasi keragaman yaitu menumbuhkan keragaman melalui pergaulan dengan banyak orang.
4)      Kesadaran politik, yaitu mampu membaca arus-arus emosi sebuah kelompok dan hubungannya dengan kekuasaan.[15]
e.       Kemampuan Membina Hubungan Dengan Orang Lain (Berinteraksi Sosial)
Sebagian besar seni membina hubungan merupakan keterampilan mengelola emosi orang lain. Keterampilan sosial ini menunjang popularitas kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi. Orang yang hebat dalam keterampilan ini akan sukses dalam bidang apapun yang mengandalkan pergaulan dengan orang lain. Mereka adalah bintang-bintang pergaulan.[16]
Adapun ciri-ciri dari ketrampilan sosial yaitu:
1)      Pengaruh, yaitu ketrampilan menggunakan perangkat persuasi secara aktif untuk mempengaruhi orang lain ke arah yang positif.
2)      Komunikasi, yaitu mendengarkan secara terbuka dan mengirim pesan secara lugas, padat dan meyakinkan.
3)      Manajemen konflik, yaitu merundingkan dan menyelesaikan ketidaksepakatan.
4)      Kepemimpinan yaitu mengilhami dan membimbing individu atau kelompok.
5)      Katalisator perubahan yaitu mengelola dan mengawali perubahan.
6)      Kolaborasi dan kooperasi, yaitu bekerja bersama orang lain menuju sasaran bersama. Keterampilan ini meliputi kecakapan seseorang dalam menyeimbangkan pemusatan perhatian, kolaborasi, mempromosikan kerjasama yang bersahabat, dan menumbuhkan peluang-peluang untuk kolaborasi.
7)      Kemampuan tim, yaitu menciptakan sinergi dalam upaya meraih sasaran kolektif. Orang dalam kecakapan ini mampu menjadi teladan dalam tim, mendorong setiap anggota agar berpartisipasi secara aktif, dan membangun identitas tim dengan semangat kebersamaan dan komitmen.[17]
3.      Usaha-Usaha Pengembangan Kecerdasan Emosional
Kecerdasan Emosional tidak berkembang secara alamiah, artinya kematangan seseorang tidak didasarkan pada perkembangan usia biologisnya. Oleh karena itu, EQ harus dipupuk dan diperkuat melalui proses pelatihan dan pendidikan yang berkesinambungan.[18]
John Gottman dan Joan De Claire menawarkan lima langkah penting dalam mendidik emosi anak, yaitu:
a.       Menyadari emosi anak.
Dalam hal ini terlebih dahulu orang tua harus sadar secara emosional sehingga siap menjadi pelatih emosi. Kesadaran emosi berarti orang tua mengenali kapan anak mereka merasakan emosi, mengidentifikasi perasaan dan peka akan hadirnya emosi pada orang lain. Orang tua tidak mudah memahami emosi anak karena mereka sering mengungkapkan emosi secara tidak langsung.
b.      Mengakui emosi sebagai peluang untuk kedekatan dan mengajar.
Orang tua harus mengenali emosi negatif anak mereka sebagai peluang untuk menjalin ikatan dan mengajar. Ketika anak dalam masa krisis yang menyulut emosi negatif mereka, orang tua harus memanfaatkannya sebagai peluang untuk berempati, membangun kedekatan dengan mereka dan mengajarkan mereka menangani perasaan mereka.
c.       Mendengarkan dengan empati dan meneguhkan emosi anak.
Dalam hal ini orang tua dapat mengamati petunjuk fisik emosi anak dan menggunakan imajinasi mereka untuk melihat situasi yang dihadapi dari sudut pandang anak itu. Namun yang paling penting orang tua menggunakan hatinya untuk merasakan apa yang dirasakan oleh anak mereka.
d.      Menolong anak memberi nama emosi dengan kata-kata.
Membantu anak menemukan kata-kata untuk melukiskan apa yang sedang dirasakan berarti membantu anak menyusun kata-kata untuk mengungkapkan emosi mereka.
e.       Menentukan batas-batas sambil membantu anak menyelesaikan masalah.
Ada lima tahap yang harus dilalui orang tua dalam membantu anak memecahkan masalahnya meliputi: menentukan batas-batas, menentukan sasaran, memikirkan solusi dari masalah, mengevaluasi solusi yang disarankan berdasarkan nilai yang dijunjung keluarga, dan membantu anak memilih solusi yang tepat.[19]
Salah satu usaha dalam pengembangan kecerdasan emosional di sekolah, guru senantiasa melakukan komunikasi dengan peserta didik. Menurut Mansyur Isna, ada beberapa cara untuk meningkatkan kecerdasan emosional peserta didik, yaitu:
a.       Sekolah harus menciptakan rasa nyaman bagi peserta didik, yaitu: atmosfer yang demokratis dan guru yang memahami kondisi peserta didik.
b.      Sekolah harus menciptakan self efficacy (rasa mampu melaksanakan tugas dari guru) kepada peserta didik, langkah-langkahnya adalah:
1)      Guru harus menjaga perasaan peserta didik.
2)      Guru tidak boleh mengejek peserta didik.
3)      Guru harus memberi kesempatan peserta didik menjawab pertanyaan.
4)      Guru harus memberi kesempatan peserta didik mengungkapkan perasaan (emosi) yang sedang dirasakan.
5)      Guru harus bersedia dikritik peserta didik tanpa menunjukkan rasa marah atau jengkel. Peserta didik akan memiliki kemampuan mengendalikan emosi apabila guru terlebih dahulu memilikinya.
c.       Guru harus dapat membantu peserta didik menyalurkan emosi mereka lewat kegiatan yang positif dan membangun.[20]
Dalam mendidik anak agar memiliki kecerdasan emosional yang tinggi tidaklah mudah, dibutuhkan kerjasama antara keluarga, sekolah, dan masyarakat, serta yang utama adalah kesadaran dalam diri.
Untuk melatih kesadaran dalam diri bisa melalui beberapa ketrampilan-ketrampilan dan permainan yang menantang dan menyenangkan oleh orang tua dan pendidik.
4.      Manfaat Kecerdasan Emosional
Goleman menyatakan bahwa setinggi-tingginya kecerdasan intelektual menyumbang kira-kira 20% bagi faktor-faktor yang menentukan sukses individu dalam hidup. Sedangkan 80% diisi oleh kekuatan-kekuatan lain termasuk diantaranya kecerdasan emosional.[21]
Utsman Najati dalam bukunya yang berjudul Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, mengatakan bahwa emosi-emosi yang ada pada manusia sangat bermanfaat apabila dalam pengekspresiannya dimunculkan dengan tepat. Misalnya emosi marah, marah merupakan suatu emosi penting yang mempunyai fungsi esensial bagi kehidupan manusia, yakni membantu dalam menjaga dirinya. Emosi marah yang menguasai diri seseorang bisa membuat seseorang tersebut kehilangan kemampuan berpikir sehatnya, karena ketika seseorang sedang marah, dia melakukan tindakan-tindakan fisik untuk mempertahankan diri atau menaklukkan hambatan-hambatan yang menghadang dalam upayamerealisasikan tujuannya.[22]
Emosi-emosi yang ada pada diri manusia sangat beragam, meliputi emosi marah, takut, cinta, malu, kegembiraan, kebencian, cemburu, penyesalan, sedih, dan emosi-emosi lainya. Semua emosi-emosi tersebut bisa menjadi sebuah dorongan positif apabila dimunculkan dengan terkendali.[23]
Berkaitan dengan itu Coleman dan Hammen menyebutkan, setidaknya ada 4 manfaat emosi. Pertama, emosi adalah pembangkit energi (energizer). Tanpa emosi, kita tidak sadar atau mati. Hidup berarti merasai, mengalami, bereaksi, dan bertindak. Emosi membangkitkan dan memobilisasi energy kita; marah menggerakkan kita untuk menyerang; takut menggerakkan kita untuk lari; dan cinta mendorong kita untuk mendekat dan bermesraan. Kedua, emosi adalah pembawa informasi (messenger). Bagaimana keadaan diri kita dapat diketahui dari emosi kita. Jika marah, kita menggetahui bahwa kita dihambat atau diserang oleh orang lain; sedih berarti kita kehilangan sesuatu yang kita sayangi; bahagia berarti kita memperoleh sesuatu yang kita senangi; atau berhasil menghindari hal yang kita benci. Ketiga, emosi bukan saja membawa informasi dalam komunikasi intrapersonal, tetapi juga pembawa pesan dalam komunikasi interpersonal. Beberapa penelitian membuktikan bahwa ungkapan emosi dapat dipahami secara universal. Dalam retorika diketahui bahwa pembicaraan yang menyertakan seluruh emosi dalam pidato dipandang lebih hidup, lebih dinamis, dan lebih menyakinkan. Keempat, emosi juga merupakan sumber informasi tentang keberhasilan kita. Kita mendambakan kesehatan dan mengetahuinya ketika kita merasa sehat wal’afiat. Kita mencari keindahan dan memperolehnya ketika kita merasakan kenikmatan estetis dalam diri kita.[24]
Apabila manusia menjalani kehidupan tanpa adanya emosi merupakan kehidupan tanpa kesan, karena suatu peristiwa tentu disertai emosi, maka peristiwa tersebut mempunyai kesan yang kuat dalam diri seseorang. Akan tetapi apabila ledakan emosi berlebihan, sehingga mengalahkan nalar yang rasional, maka kurang baik bagi kehidupan dan itulah yang perlu dilatih, dicerdaskan sebagaimana teori kecerdasan emosional.


[1] Arthor S. Reber dan Emily S. Reber, Kamus Psikologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2010), hlm. 313
[2] Achmad Juntika Nurihsan & Mubiar Agustin, Dinamika Perkembangan Anak & Remaja Tinjauan Psikologi, Pendidikan, dan Bimbingan, (Bandung : Refika Aditama, 2013), Cet. 2, hlm 41
[3] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi, Terj. Alex Tri
Kentjono Widodo, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2000), hlm. 513
[4] Jeane Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional, (Bandung: Mizan Media Utama, 2000), hlm. 27
[5]  Lawrence E. Shapiro, Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak, (Jakarta:
Gramedia Pustaka Utama, 2003), hlm. 10
[6] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional, Terj. T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2001), hlm. 52
[7] Ibid., hlm. 53
[8]  Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada EQ, terj.
T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia,1996), hlm. 36.
[9] Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada EQ, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2006), hlm. 404
[10] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional untuk Mencapai Puncak Prestasi, hlm.42.
[11] Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada EQ, hlm. 404

[12] Harry Alder, Boost Your Intelligence: Pacu  EQ dan  IQ Anda, terj.  Christina
Prianingsih, (Jakarta: Erlangga, 2001), hlm. 125
[13] Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada EQ, hlm. 405
[14] Daniel Goleman, Working With Emotional Intelligence, Hlm. 43.

[15] Daniel Goleman, Working With Emotional Intelligence, Hlm.219.
[16] Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada EQ, hlm. 405
[17] Daniel Goleman, Kecerdasan Emosional untuk Mencapai Puncak Prestasi, hlm. 271
[18] Agus Nggermanto, Quantum Quotient, Kecerdasan Quantum, Cara Cepat Melejitkan IQ,
EQ, dan SQ secara Harmoni, (Bandung: Nuansa Cendekia, 2001),  hlm. 100
[19] John Gottman dan Joan De Claire, Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki
Kecerdasan Emosional, terj. T. Hermaya, (Jakarta: Gramedia, 2001), hlm. 73-104
[20] Mansyur Isna, Diskursus Pendidikan Islam, (Yogyakarta: Global Pustaka Utama, 2001),
hlm. 90-91
[21] Daniel Goleman, Emotional Intelligence: Mengapa EI Lebih Penting daripada EQ, hlm 44
[22] Usman Najati, Al-Qur'an dan Ilmu Jiwa, terj. Ahmad Rofi Usmani, (Bandung: Pustaka
Setia, 1999), hlm.77.
[23] Usman Najati, Al-Qur'an dan Ilmu Jiwa, terj. Ahmad Rofi Usmani, hlm. 66.

[24] Alex Sobur, Psikologi Umum Dalam Lintas Sejarah, (Bandung : Pustaka Setia, 2003), Cet. 1., hlm. 400

6/5/16

Gembira Menyambut Ramadhan


Oleh: Choironi S

ألسّلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بسم الله الر حمن الرحيم
الحمد لله ربّ العالمين
الحمد لله الذي أنعمنا بنعمة الإيمان والإسلام
وبنعمة صحة والعافية 
اللهم صل على سيدنا محمّد وعلى أله وصحبه أجمعين
٭أمّا بعد

Segala puji bagi Allah, teriring doa dan keselamatan semoga terlimpah atas nabi dan rasul termulia: Muhammad SAW, juga atas keluarga dan para sahabat, serta kepada semua yang  mengikuti mereka dalam kebenaran sampai hari kiamat nanti.
Ramadhan Kariim, Marhaban Ya Ramadhan … Bulan Ramadhan telah benar-benar datang menjelang. Kaum muslimin kembali bergembira dengan datangnya bulan yang mulia ini. Setelah sebelas bulan kita mengarungi kehidupan yang penuh warna-warni, maka inilah momentum yang tepat bagi kita semua untuk membersihkan diri dari segala dosa yang melekat tanpa kita sadari.
Kaum Muslimin yang berbahagia …
Sungguh kita semua bergembira sepenuh hati dengan datangnya Ramadhan yang penuh berkah. Rasa gembira ini adalah cerminan ketakwaaan yang ada dalam hati kita, karena sejatinya bulan Ramadhan adalah salah satu dari syiar dalam agama kita, yang harus senantiasa kita hormati dan agungkan. Allah SWT berfirman :
“ Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari
ketakwaan hati.” (QS Al-Hajj 32)
Karenanya, sungguh mengherankan jika ada sebagian kaum muslimin yang justru merasa beratdengan hadirnya Ramadhan, merasa bahwa Ramadhan mengekang segala kebebasan dan kemerdekaannya. Atau ada pula yang merasa biasa-biasa saja, merasa bahwa Ramadhan hanyalah rutinitas belaka, yang datang silih berganti sebagaimana bulan-bulan lainnya. Sikap seperti ini, tentu saja bukan cerminan ketakwaan yang ada dalam hati. Melainkan timbul dari hati yang sakit atau jiwa yang lekat dengan maksiat. Tentu saja kita berlindung dari sikap yang demikian …Naudzu billah tsuma naudzu billahimin dzalik...
Ma’asyirol mukminin rahimakumullah …
Kegembiraan kita tentu saja bukan sebagaimana kegembiraan anak-anak kecil dengan hadirnya Ramadhan. Karena mereka juga bergembira dengan datangnya bulan mulia ini, karena mempunyai waktu banyak untuk bermain bersama teman, bahkan –mungkin saja- gembira karena adanya petasan, dan janji pakaian baru di hari lebaran. Kegembiraan yang semacam ini tentu saja melekat pada diri anak-anak semata, tapi bukan kegembiraan yang kita maksudkan dalam menyambut Ramadhan yang mulia. Begitu pula kegembiraan kita bukanlah kegembiraan anak –anak yang beranjak remaja. Dimana mereka bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena mempunyai banyak kesempatan untuk jalan-jalan menghabiskan waktu bersama teman atau bahkan pasangannya. Banyak kita saksikan kesucian Ramadhan ternoda, dengan mudamudi yang justru menggunakan waktu-waktu ibadah untuk saling PDKT satu sama lainnya.
Naudzu billah tsumma naudzu billah ..
Kaum muslimin yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala …
Sesungguhnya kita bergembira dengan hadirnya Ramadhan, karena bulan ini membawa banyak keutamaan bagi kita semua. Jika kita merenunginya satu persatu lebih mendalam, maka tentulah kegembiraan itu akan kian bertambah lengkap dan sempurna. Marilah kita melihat beberapa keutamaan Ramadhan yang menjadikan alasan kita bersuka cita menyambutnya …
Pertama, Karena Ramadhan bulan penggugur dosa kita
Rasulullah SAW bersabda dengan lisannya yang mulia : ”Shalat lima waktu, shalat jum’at sampai ke shalat jum’at berikutnya, puasa Ramadhan ke puasa Ramadhan berikutnya adalah sebagai penghapus (dosa) apabila perbuatan dosa besar ditinggalkan”. (HR. Muslim)
Hal kedua yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan merupakan bulan musim kebaikan, dimana kita semua menjalankan ibadah dengan penuh semangat, berbondongbondong dan sungguh terasa lebih ringan. Inilah yang dijelaskan dalam hadist Rasulullah SAW, tentang Ramadhan sebagai musim kebaikan yang menakjubkan : “(Bulan dimana) dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, syetan-syetan dibelenggu. Dan berserulah malaikat : wahai pencari kebaikan, sambutlah. Wahai pencari kejahatan, berhentilah” (demikian) sampai berakhirnya ramadhan” ( HR Ahmad)
Kaum muslimin yang berbahagia …
Hal ketiga yang membuat kita berbahagia adalah, karena Ramadhan adalah bulan dimana ukhuwah kita meningkat. Bayangkan saja, bagaimana hari-hari ini dipenuhi dengan banyak pertemuan antar jamaah masjid, dari mulai sholat tarawih berjamaah, tadarusan selepas tarawih, hingga sholat shubuh berjamaah …. Kaum muslimin berkumpul setiap harinya dan merasakan keindahan ukhuwah yang luar biasa. Bahkan bukan hanya di luar rumah, di dalam rumah pun kita menemukan keharmonisan yang bertambah saat Ramadhan tiba. Banyak kesempatan untuk berkumpul antar anggota keluarga, khususnya saat buka puasa dan sahur menjelang. Ini semua tanpa kita sadari, sungguh membuat hati kita lebih tenteram dan nyaman.
Yang terakhir, tentu saja kita bergembira dalam bulan Ramadhan ini karena Allah SWT banyak menjanjikan pahala kemuliaan bagi kita semua melalui amal-amal yang ada di dalamnya. Setiap Ramadhan ada satu malam yang mulia, yaitu lailatul qadar yang bernilai melebihi seribu bulan. Ini menjadi kesempatan yang sungguh kita impikan, untuk mendapatinya dengan
memperbanyak ibadah pada malam tersebut. Akhirnya, marilah kegembiraan ini kita jadikan sebagai pemicu awal untuk lebih bersemangat dalam mengarungi samudera keberkahan Ramadhan dengan ragam ibadahnya yang mulia. Kita dapatkan dalam Ramadhan ini. Semoga Allah SWT memudahkan …..
الحمد لله ربّ العالمين
بالله توفيق والهداية
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

About

Ahmad Fathullah, M.Pd
No.Hp : wa.me/6282143358433 (SMS/WA)
Alamat : Jl. Bulak Sari 1/59 Surabaya
Email : ad.fathullah@gmail.com
Fb : ahmad.fathullah.10
IG : a.fathullah94