8/2/13

Berbuat Baik harus di Biasakan

Dalam suatu hadits qudsi, Allah SWT berfirman “Jikalau seseorang hamba itu mendekat padaKu sejengkal, maka Aku mendekat padanya sehasta dan jikalau ia mendekal padaKu sehasta, maka Aku mendekat padanya sedepa. Jikalau hamba itu mendatangi Aku dengan berjalan, maka Aku mendatanginya dengan bergegas.” (HR. Bukhari)

Didalam melihat jalan hidup masyarakat di sekitar kita, bisa kita lihat bahwa beberapa orang mempunyai kecenderungan tertentu. Orang yang terbiasa berbuat maksiyat, maka dari hari kehari dia akan semakin terjerumus kedalam lembah yang hitam. Sebaliknya orang yang suka sholat berjamaah ke masjid, maka dia akan ramah ke tetangganya, rutin berinfaq dan bahagia kehidupan keluarganya.

Semakin seseorang memperbanyak dan membiasakan berbuat baik, maka semakin banyak terbuka pintu-pintu kebaikan yang lain. Hal ini sesuai dengan hadits qudsi diatas bahwa semakin tinggi intensitas dan kualitas ibadah kita kepada Allah SWT maka semakin dekatlah kita dengan-Nya.

Salah satu kunci kesuksesan hidup kita adalah bagaimana kita membiasakan berbuat baik. Semakin kita terbiasa berbuat baik, maka semakin mudah jalan kita untuk mencapai kebahagiaan hidup. Agar manusia terbiasa beribadah, maka beberapa ibadah dilakukan berulang dalam kurun waktu tertentu seperti sholat lima kali dalam sehari, puasa sunnah dua kali seminggu dan sholat jum’at sekali sepekan.

Permasalahan awal yang biasanya ditemukan dalam melakukan sesuatu yaitu dalam memulainya. Memulai suatu aktifitas terkadang lebih berat dibandingkan ketika melaksanakannya. Maka ketika kita mendorong mobil yang mogok, akan diperlukan tenaga yang besar saat sebelum mobil bergerak. Setelah mobil tersesebut bergerak, diperlukan daya dorong yang kecil. Ada juga sifat kita yang menunda perbuatan baik, padahal perbuakan baik janganlah ditunda. Kalau kita ada keinginan untuk menunda, maka tundalah untuk menunda. Hal ini seperti yang disampaikan Rasulullah saw:

“Bersegeralah untuk beramal, jangan menundanya hingga datang tujuh perkara. Apakah akan terus kamu tunda untuk beramal kecuali jika sudah datang: kemiskinan yang membuatmu lupa, kekayaan yang membuatmu berbuat melebihi batas, sakit yang merusakmu, usia lanjut yang membuatmu pikun, kematian yang tiba-tiba menjemputmu, dajjal, suatu perkara gaib terburuk yang ditunggu, saat kiamat, saat bencana yang lebih dahsyat dan siksanya yang amat pedih.” (HR. Tirmidzi)

Salah satu cara untuk mempermudah kita dalam memulai suatu amal ibadah adalah dengan mengetahui akan besarnya manfaat yang akan dirasakan. Segala hambatan atau godaan untuk tidak melaksanakan kebaikan tersebut akan bisa dilewatkan dengan keyakinan yang kuat. Oleh sebab itu, kita wajib untuk mencari ilmu tentang fadhilah (kelebihan) dari suatu amalan atau ibadah. Bahkan untuk menguatkan hati, kita juga perlu mencari ilmu secara berulang kali. Bahkan beberapa pengulangan dalam Al Quran digunakan agar manusia semakin ingat.



“Dan sesungguhnya dalam Al Quran ini Kami telah ulang-ulangi (peringatan-peringatan), agar mereka selalu ingat. Dan ulangan peringatan itu tidak lain hanyalah menambah mereka lari.” (QS. Al Israa’ 41)

Jadi, mulailah perbuatan baik yang ingin anda lakukan sekarang dan jangan ditunda. Kalau belum yakin, perluas dan perdalam ilmu agar kita semakin yakin.

Wallahu a’lam bish showab.

6/29/13

Khutbah Rasulullah Menyambut Ramadhan

Wahai manusia, sungguh telah datang pada kalian bulan Allah dengan membawa berkah rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah hari-hari yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yg paling utama.
Inilah bulan ketika kamu diundang menjadi tetamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan shiyam dan membaca Kitab-Nya.
Celakalah orang yang tidak mendapat ampunan Allah di bulan yang agung ini. Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu, kelaparan dan kehausan di hari kiamat. Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan masakin. Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang muda, sambungkanlah tali persaudaraanmu, jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa yang tidak halal kamu memandangnya dan pendengaranmu dari apa yang tidak halal kamu mendengarnya. Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi manusia anak-anak yatimmu.

5/28/13

Suasana pada saat Ujian Majelis Santri PESANTREN PERSIS PUTRI Kelas 6 Putra - Putri.


















خفظ اللسان



اخفظ لسانك أيهاالانسان........لا يلدغنك إنه ثعبان
معنى الكلمة.
إحفظ : ..............

لدغ- يلدغ :

ثعبان :

" Jagalah lidahmu wahai manusia, jangan sekali-kali engkau dipatuknya. Karena sungguh ia ularberbisa."


Komentar,

Lidah adalah salah satu ciptaan Allah yang unik dalam organ tubuh manusia, ia adalah sepenggal daging yang tak bertulang, lunak, lemas takberdaya, namun ia juga bisa membuat manusia binasa dan sengsara sebagaimana kata pepatah : kerena lidah badan binasa
Imam Ali berkata :

اللسان كالسبع إن خلي عنه عقر

" lidah itu bagaikan binatang buas kalau dibiarkan dia akan menerkam."
Jadi ia adalah senjata makan tuan,artinya ia bisa mencelakakan diri orang yang berkata itu sendiri kalau ia tidak berhati-hati dalam kata-kata dan ucapannya,bahkan lidah juga bisa menciptakan malapetaka dikalangan masyarakat, tengoklahbetapabanyak orang bertengkar,berkelahi secara massal,tawuran,baku pukul,bakulempar bahkan baku bunuh gara-gara lidah tak terkendalikan, karena itu penyair menghimbau kepada semua dan siapapun agar pandai menjaga lidah. Dan untuk itu juga penulis disini berwasiat dan berpesan kepada siapa saja terutama kepada diri pribadi sendiri agar jangan terlalu banyak bicara, banyak ngomong.Pikirlah apa yang mau disampaikan dan dikatakan (ojo` ngomong sa` karepe) pikirlah akibatnya sebelum kita menyesal dikemudian, kalau itu baik katakanlah kalau tidak diamlah toh diam itu juga adalah ibadah sebagaimana dalam hadits,

من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت

" Barangsipa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam "

Kemudian kita bisa membedakan antara orang yang berakal dengan dungu dari bicara dan omongannya. Orang berakal berpikir sebelum berkata, sedang orang dungu berkata dulu sebelum berpikir, sebagaimana kata ahli hikmah :

لسان لعاقل وراء قلبه. وقلب الاحمق وراء لسانه

" Lidah orang berakal dibelakang hatinya sedang hatinya orang dungu dibelakang lidahnya ".

About

Ahmad Fathullah, M.Pd
No.Hp : wa.me/6282143358433 (SMS/WA)
Alamat : Jl. Bulak Sari 1/59 Surabaya
Email : ad.fathullah@gmail.com
Fb : ahmad.fathullah.10
IG : a.fathullah94