10/8/15

Kemampuan Profesional Pemimpin Pendidikan


Makalah ini disusun guna memenuhi tugas Mata Kuliah Etika Profesi Pendidik  
Dosen Pengampu : Shokhibul Arifin, M.Pd.I


Oleh :
Ahmad Fathullah
20121550067


UNIVERSITAS MUHMMADIYAH SURABAYA FAKULTAS AGAMA ISLAM
TAHUN 2015

JL. Sutorejo No. 59 Surabaya 60113 Telp. (031)3811966 Fax. (031)3813096






BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Sejak dari lahir hingga mati manusia tidak akan dapat hidup sendiri dan tak akan lepas dari yang namanya hubungan saling bantu membantu antar manusia oleh karena itu manusia disebut sebagai makhluk sosial yang dalam kehidupannya saling berkelompok.
Dalam suatu kelompok pastilah ada salah satu diantara beberapa orang tersebut untuk dijadikan sebagai pacuan atau sebagai panduan dalam menghadapi semua masalah-masalah yang mungkin timbul dalam realita kehidupan. Dimana orang tersebut diharapkan mampu memimpin dirinya sendiri keluarga dan anggota – anggotanya ke jalan yang baik. Disinilah dituntut kearifan seorang pemimpin dalam mengambil keputusan agar masalah dapat terselesaikan dengan baik.


2.      RUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana Kepemimpinan Pendidikan Yang Profesional ?
2.      Bagaimana Ciri-Ciri Kepemimpinan Masa Depan ?
3.      Bagaimana Kepemimpinan Yang Efektif Dalam Penentuan Kebijakan ?
4.      Bagaimana Kompetensi Kepemimpinan Kepala Sekolah ?


3.      TUJUAN MAKALAH

1.      Untuk Mengetahui Kepemimpinan Pendidikan Yang Profesional.
2.      Untuk Mengetahui Ciri-Ciri Kepemimpinan Masa Depan
3.      Untuk Mengetahui Kepemimpinan Yang Efektif Dalam Penentuan Kebijakan
4.      Untuk Mengetahui Kompetensi Kepemimpinan Kepala Sekolah



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Kepemimpinan Pendidikan Yang Profesional
Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa[1].
Kepemimpinan adalah aktivitas untuk mempengaruhi orang-orang supaya diarahkan mencapai tujuan organisasi”.[2]
Profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang”[3]
Jadi dapat disimpulkan bahwa sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa
Profesionalisme adalah suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya yang bertujuan agar kualitas keprofesionalannya dapat tercapai secara berkesinambungan.
B.     Ciri-Ciri Kepemimpinan Masa Depan
menjadi pemimpin yang baik harus memenuhi ciri – cirinya, yaitu[4]:
1.      Pemimpin mampu memimpin dirinya sendiri.
Seorang pemimpin sejati harus mengetahui bagaimana caranya memimpin dirinya sendiri. Tidak hanya memberikan contoh baik kepada karyawannya, tetapi ikut berperan serta, bekerja, atau terlibat dalam seluruh pekerjaan.
2.      Jangan jadikan kerajaan.
Pemimpin yang bijaksana berarti (seakan-akan) Kita telah mempunyai bakat untuk menduduki posisi tersebut. Tapi ingat, jangan ciptakan sebuah kerajaan. Pemimpin yang secara kebetulan jadi bos, sering juga secara kebetulan membentuk suatu sistem aturan yang tidak perlu dan terlalu mengekang. Aturan bagi karyawan memang perlu, tapi tak perlu berlebihan.
3.      Selalu terbuka mencari bentuk baru.
Salah satu kunci keberhasilan dari menjalankan bisnis adalah mengulang-ulang sesuatu yang terbukti berhasil. Masalahnya, seorang pemimpin yang secara kebetulan jadi pemimpin, cenderung terus saja mengulang metode tadi dan tak berani melakukan terobosan baru. Sebaliknya, pemimpin sejati mengakui keberhasilannya tetapi juga menyadari bahwa selalu ada jalan lain untuk membuat sesuatu lebih baik lagi.
4.      Kepribadian kuat & tanggung jawab.
Memang benar Kita yang memegang kekuasaan. Tapi itu tak berarti Kita boleh melakukan apa saja tanpa memikirkan tanggung jawabnya. Jangan hanya menuntut bawahan untuk menyelesaikan tugas dengan baik, tapi Kita pun harus memberi contoh yang baik. Jangan lupa, Kita adalah panutan mereka.
5.      Menuntaskan pekerjaan.
Banyak pemimpin berkata, “permainannya” telah selesai. Padahal, seorang pemimpin sejati, tidak akan pernah merasa selesai bekerja. Tiap hari pasti ada masalah baru yang harus segera dituntaskan. Entah komplain dari klien atau bawahan yang membuat ulah.
6.      Beri penghargaan selayaknya.
Pemimpin sejati harus mempunyai tangan yang kuat sepertisi Popeye setiap kali habis makan bayam. Prestasi yang baik menuntut timbal baik yang riil. Pemimpin yang mempunyai mata jauh ke depan sangat dikagumi dan dihargai, tetapi haruslah dengan sesuatu tindakan yang nyata pula, misalnya memberi promosi, bonus, dan bentuk penghargaan yang nyata atas prestasi karyawan.
7.      Tak berhenti belajar.
Jauh sebelum para eksekutif ber-pendapat bahwa keahlian memimpin berasal dari semacam anugerah yang menakjubkan, tetap saja seorang pemimpin yang dapat dipercaya juga berarti harus terus dan banyak belajar.

C.     Kepemimpinan Yang Efektif Dalam Penentuan Kebijakan
Pengambilan kebijakan dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Untuk mengetahui baik tidaknya kebijakan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya. Kegiatan pengambilan kebijakan merupakan salah satu bentuk kepemimpinan, sehingga :
1.      Teori kebijakan merupakan metodologi untuk menstrukturkan dan menganalisis situasi yang tidak pasti atau berisiko, dalam konteks ini kebijakan lebih bersifat perspektif dari pada deskriptif
2.      Pengambilan kebijakan adalah proses mental dimana seorang manajer memperoleh dan menggunakan data dengan menanyakan hal lainnya, menggeser jawaban untuk menemukan informasi yang relevan dan menganalisis data; manajer, secara individual dan dalam tim, mengatur dan mengawasi informasi terutama informasi bisnisnya.
3.      Pengambilan kebijakan adalah proses memilih di antara alternatif-alternatif tindakan untuk mengatasi masalah.
Dalam pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu  proses dan gaya pengambilan keputusan[5]
Ø  Proses pengambilan keputusan, dilakukan melalui beberapa tahapan seperti:
  1. Identifikasi masalah
  2. Mendefinisikan masalah
  3. Merumuskan masalah
  4. penerapan keputusan
  5. Evaluasi keputusan
Ø  Gaya pengambilan keputusan, Gaya adalah kebiasaan yang dipelajari. Gaya pengambilan keputusan merupakan kuadran yang dibatasi oleh dimensi:
  1. Cara berpikir, terdiri dari:
    1. Logis dan rasional; mengolah informasi secara serial
    2. Intuitif dan kreatif; memahami sesuatu secara keseluruhan.
    3. Toleransi terhadap ambiguitas
      1. Kebutuhan yang tinggi untuk menata informasi dengan cara meminimalkan ambiguitas
      2. Kebutuhan yang rendah untuk menata informasi, sehingga dapat memproses banyak pemikiran pada saat yang sama.

D.    Kompetensi Kepemimpinan Kepala Sekolah
Kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan seseorang ketika melakukan sesuatu. Memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. Agar berhasil, kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar. [6]
Adapun standar kompetensi kepala sekolah yaitu:
A.     Kompetensi kepribadian, meliputi:
1.      Berakhlak mulia, mengembangkan budaya dan tradisi akhlak mulia, dan menjadi teladan akhlak mulia bagi komunitas di sekolah.
2.      Memiliki integritas kepribadian sebagai pemimpin.
3.      Memiliki keinginan yang kuat dalam pengembangan diri sebagai kepala sekolah.
4.      Bersikap terbuka dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi.
5.      Mengendalikan diri dalam menghadapi masalah dalam pekerjaan sebagai kepala sekolah.
6.      Memiliki bakat dan minat jabatan sebagai pemimpin pendidikan.

B.       Kompetensi manajerial, meliputi:
1.      Mampu menyusun perencanaan sekolah untuk berbagai tingkatan perencanaan.
2.      mengembangkan organisasi sekolah sesuai dengan kebutuhan.
3.      Memimpin sekolah dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.
4.      Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah menuju organisasi pembelajar yang efektif.
5.      Menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik.
6.      mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.
7.      mengelola sarana dan prasarana sekolah dalam rangka pendayagunaan secara optimal.
8.      mengelola hubungan sekolah dan masyarakat dalam rangka pencarian dukungan ide, sumber belajar, dan pembiayaan sekolah.
9.      mengelola peserta didik dalam rangka penerimaan peserta didik baru, penempatan siswa, dan pengembangan kapasitas peserta didik.
10.  Mengelola pengembangan kurikulum dan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan arah dan tujuan pendidikan nasional.
11.  Mengelola keuangan sekolah sesuai dengan prinsip pengelolaan yang akuntabel, transparan, dan efisien.
12.  Mengelola ketatausahaan sekolah dalam mendukung kegiatan-kegiatan sekolah.
13.  Mengelola unit layanan khusus sekolah dalam mendukung kegiatan pembelajaran dan kegiatan kesiswaan di sekolah.
14.  mengelola sistem informasi sekolah dalam mendukung penyusunan program dan pengambilan keputusan.
15.  memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen sekolah.
16.  Melakukan monitoring, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program kegiatan sekolah dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjutnya.
C.       Kompetensi kewirausahaan, meliputi:
1.      Menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah.
2.      Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang efektif.
3.      Memiliki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai pemimpin sekolah.
4.      Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi sekolah.
5.      Memiliki naluri kewirausahaan dan mengelola kegiatan produksi atau jasa sekolah sebagai sumber belajar peserta didik.
D.      Kompetensi supervise, meliputi:
1.      Merencanakan program supervisi akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
2.      Melaksanakan supervisi akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik supervisi yang tepat.
3.      Menindaklanjuti hasil supervisi akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.
E.       Kompetensi sosial, meliputi:
1.      Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah.
2.      Berpartisipasi dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.
3.      Memiliki kepekaan sosial terhadap orang atau kelompok lain.[7]






BAB III
KESIMPULAN

1.      Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa
Profesionalisme adalah suatu bentuk komitmen para anggota suatu profesi untuk selalu meningkatkan dan mengembangkan kompetensinya yang bertujuan agar kualitas keprofesionalannya dapat tercapai secara berkesinambungan.
2.      menjadi pemimpin yang baik harus memenuhi ciri – cirinya, yaitu :
1.      Pemimpin mampu memimpin dirinya sendiri
2.      Jangan jadikan kerajaan
3.      Selalu terbuka mencari bentuk baru
4.      Kepribadian kuat & tanggung jawab
5.      Menuntaskan pekerjaan
6.      Beri penghargaan selayaknya
7.      Tak berhenti belajar.
3.      Pengambilan kebijakan dalam tinjauan perilaku mencerminkan karakter bagi seorang pemimpin. Untuk mengetahui baik tidaknya kebijakan yang diambil bukan hanya dinilai dari konsekuensi yang ditimbulkannya, melainkan melalui berbagai pertimbangan dalam prosesnya.
Dalam pelaksanaannya, pengambilan keputusan dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu  proses dan gaya pengambilan keputusan
4.      Kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan yang diperlihatkan seseorang ketika melakukan sesuatu. Memahami visi dan misi serta memiliki integritas yang baik saja belum cukup. Agar berhasil, kepala sekolah harus memiliki kompetensi yang disyaratkan untuk dapat mengemban tanggung jawabnya dengan baik dan benar
Adapun standar kompetensi kepala sekolah yaitu:
1.      Kompetensi kepribadian
2.      Kompetensi manajerial
3.      Kompetensi kewirausahaan
4.      Kompetensi supervise
5.      Kompetensi sosial
 



DAFTAR PUSTAKA
Ø  Kartini, Kartono. Dr. Pemimpin Dan Kepemimpinan, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, 1998
Ø  Asep Suryana, M.Pd, Kepemimpinan Dalam Pendidikan, 2010.
Ø  Purwanto, M. Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. (Bandung : Remaja Rosdakarya 1991)
Ø  Mulyasa, E. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2005)
Ø  Wahjo, sumidjo. Kepemimpinan kepala sekolah. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2005)
Ø  Miftah Toha, Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta  2003: PT Raja Grafindo)
Ø  Kusnandar. Guru Profesional. (Jakarta 2007: PT Raja Grafindo)
Ø  Musakabe, Herman. Mencari Kepemimpinan Sejati, di Tengah Krisis dan Reformasi. ( Jakarta : Penerbit Citra Insan Pembaru 2004 )
Ø  Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007)
Ø  Imam Machali, Ara Hidayat dan, Pengelolaan Pendidikan, (Bandung: Pustaka Educa, 2010)

 


[1] Purwanto, M. Ngalim. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. (Bandung : Remaja Rosdakarya 1991), 86
[2] Miftah, Toha, Kepemimpinan dalam Manajemen, (Jakarta  2003: PT Raja Grafindo), 5
[3] Kusnandar. Guru Profesional. (Jakarta 2007: PT Raja Grafindo), 46
[4] Musakabe, Herman. Mencari Kepemimpinan Sejati, di Tengah Krisis dan Reformasi. ( Jakarta : Penerbit Citra Insan Pembaru 2004 ), 182
[5] Veithzal Rivai, Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), 152
[6] Mulyasa, E. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2005), 106
[7] Ara Hidayat dan Imam Machali, Pengelolaan Pendidikan, (Bandung: Pustaka Educa, 2010), 117-118.

 

9/4/15

PROBLEMATIKA DA'WAH

Beberapa problematika da'wah di zaman sekarang yaitu :



1. MASALAH  KHILAFIYAH
Kelemahan kaum muslimin dalam memahami masalah fiqhiyah dan tidak toleransi terhadap perbedaan cara beribadah  orang lain sekalipun masih dalam konteks yang diperbolehkan

2. SIFAT FRAGMENTASI KEPARTAIAN
Menjamurnya partai-partai yang berlabelkan Islam atau yang memanfa’atkan umat Islam sebagai konstituennya, namun masing-masing berdiri sendiri dan bangga dengan identitas sendiri (kelompok) semakin jauh dari persatuan.

3. KEPEMIMPINAN YANG BERSIFAT PRIBADI
Para tokoh dan pemimpin umat tidak puas dengan kepemimpinan sebelumnya dan kemudian membawa pengikutnya untuk keluar dari organisasi induk dan kemudian mendirikan organisasi atau partai sendiri.

4. Pertentangan Faham Kaum Nasionalis Muslim - Kaum Nasionalis Sekular
Kerena perbedaan cara pandang dalam memperjuangkan Islam, mereka berpisah jalan, terutama dalam mencapai tujuan, baik di parlemen ataupun di forum-forum resmi.

5. SIFAT KOOPERATIF & NON KOOPERATIF
Sifat ini terjadi di kalangan para ulama, yang satu berpihak kepada penguasa sekalipun mengorbankan hal-hal yang prinsip dalam beragama dan memecah persatuan, sementara kelompok lain yang tetap bertahan dengan pendiriannya tanpa kompromi dengan pihak manapun apabila hal itu akan merobah pendiriannya

6. Pertentangan antara Kelompok Tradisionalis dengan Kelompok Reformis
Satu kelompok masyarakat yang tetap bertahan dengan cara-cara lama (tradisional) dan tidak menerima perobahan apapun sementara kelompok lain dapat menerima perobahan kearah perbaikan).

7. Kelompok Rasionalis yang Mendewakan Akal Fikiran dalam Memahami Agama
Kelompok ini berpendapat bahwa sesuatu yang tidak masuk akal ataupun tidak relevan tidak dapat dijadikan sandaran hukum, padahal masalah keislaman tidak hanya bertumpu kepada rasionalitas berfikir, banyak diantaranya yang membutuhkan iman untuk memahaminya .

8. KELOMPOK TAKFIR
Muncul kelompok-kelompok kecil yang merasa paling benar dalam beragama dan dengan mudah mengkafirkan kelompok lain yang berbeda faham. Sekalipun perbedaan tersebut hanya menyangkut masalah khilafiyah.

9. HARAKATUL HADDAMAH (Aliran Sempalan)
Mereka mengaku sebagai penganut agama Islam, akan tetapi tidak konsisten menjalankan syari’atnya, kepentingan kelompok atau keinginan pendirinya lebih menonjol daripada kepatuhan mereka kepada nilai-nilai Al-Qur-an dan As-Sunnah.
 Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, Oleh Prof.DR.Deliar Noer dan Masyarakat Islam oleh Prof DR.Ahmad Syalaby





WALLAHU A'LAM
 


About

Ahmad Fathullah, M.Pd.
Pendidikan • Keislaman • Muhammadiyah • Pengabdian
Surabaya, Jawa Timur
WhatsApp  •  Email
Facebook  •  Instagram: @a.fathullah94