8/6/18

QAIDAH - QAIDAH USHUL FIQIH (9)

النَّاسِخْ وَ الْمَنْسُوْخ
Nasikh artinya yang menghapus, yang menghilangkan, yaitu : satu hukum yang menghapuskan satu hukum lain.
Mansukh artinya yang dihapuskan, yang dihilangkan, yaitu : hukum yang dihapuskan.
Tentang ini, ada beberapa pembicaraan, sebagai berikut :
1.      BAGIAN – BAGIAN NASIKH – MANSUKH
Nasikh dan Mansukh itu, ada dua macam :
I.                   Hukum yang ada dalam suatu Hadits dihapuskan oleh Ayat Qur’an, seperti riwayat berikut :
عَنِ الْبَرَاءِ.... أنَّهُ صَلَّى قِبَلَ بَيْتِ الْمَقْدِسِ سِتَّةَ عَشَرَ شَهْرًا
“Dari Bara’…. Bahwa Nabi SAW, pernah shalat menghadap ke (jurusan) Baitul – Maqdis selama enam belas bulan” {Bukhari}
Hukum menghadap Baitul – Maqdis ini, telah dihapuskan Allah dengan firman-Nya :
...فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ...
“...maka hendaklah engkau hadapkan dirimu ke masjidil Haram”

II.                Hukum yang ada dalam suatu Hadits dihapuskan oleh Hadits pula, seperti :
لَا يَأْكُلَنَّ اَحَدُكُمْ مِنْ نُسُكِهِ بَعْدَ ثَلَاثٍ
“Janganlah sekali – kali seorang dari pada kamu makan binatang qurbannya, sesudah tiga hari” {Syafi’i}
Larangan (hukum) dalam hadits ini, telah dihapuskan Nabi sendiri, dengan sabdahnya :
كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنِ ادِّخَارِ لُحُوْمِ الْأَضَاحِى لِأَجْلِ الدَّافَّةِ. كُلُوْا وَادَّخِرُوا وَتَصَدَّ قُوْا
“Adalah aku pernah melarang kamu menyimpan daging qurban, karena kedatangan orang yang berhajat, (tetapi sekarang) makanlah, dan simpanlah, dan sedekahkanlah” {Nasa’i}

Penjelasan no I dan penjelasan no II ini disebut Nasikh, yaitu yang menghapuskan, karena kedua – dua ini, menghapuskan hukum – hukum yang ada pada Hadits Bukhari (no I) dan Syafi’I (no II).

2.      SYARAT – SYARAT NASIKH – MANSUKH
Untuk menggugurkan sesuatu hukum yang ada dalam suatu keterangan, mesti dengan dalil yang sharih, yang nyata – nyata terang dari Qur’an atau Hadits. Sebagaimana contoh – contoh diatas tadi.

3.      YANG TIDAK BOLEH DIJADIKAN NASIKH
Yang tidak boleh dijadikan Nasikh (penghapus) bagi sesuatu hukum adalah :
a.       Ijma’ (persetujuan) manusia, selain persetujuan shahabat Nabi SAW
b.      Qiyash
c.       Semata – mata fikiran
d.      Perasaan seseorang
e.       Dan lain – lain yang bukan keterangan Agama
Karena semua yang tersebut ini, tidak nyata, tidak sharih, dan bukan dari dalil Agama.

4.      PERINGATAN
Dari pemeriksaan yang teliti, dapat diketahui, bahwa tidak ada satupun ayat Qur’an yang hukumnya telah dihapuskan oleh Ayat lain, dan tidak ada satupun ayat Qur’an yang telah dihapuskan oleh Hadits.
Dalam Qur’an hanya ada Nasikh saja, yaitu yang menghapuskan sesuatu hukum di luar Al – Qur’an, seperti contoh shalat menghadap Masjidil Haram yang telah dibahas no I.
Firman Allah SWT :
وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ
“dan bacakanlah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari kitab Tuhanmu, tidak ada seorangpun yang dapat merubah perkataan – perkataan – Nya” {Al – Kahfi : 27}
Menurut ayat ini, nyata tidaklah seorangpun dapat atau berhak mengubah firman – firman Allah. Maka tidak bias kita mengatakan “ini mansukh, itu mansukh”, kalau tidak ada keterangan dari Qur’an maupun Hadits.
Imam Abu Muslim, seorang ahli Tafsir yang sangat bijaksana, berkata :
لَيْسَ فِي الْقُرْأنِ أيَةٌ مَنْسُوْخَةٌ
“Tidak ada dalam Qur’an satupun ayat yang dimansukhkan”

7/30/18

QAIDAH - QAIDAH USHUL FIQIH (8)

البَيَانُ
Bayan artinya keterangan, penerangan
Maksudnya disini ialah : yang menerangkan perkataan atau susunan mujmal. Tentang ini, ada beberapa pembicaraan.
1.      Macam – Macam Bayan
Bayan itu bermacam – macam :
a.      Bayan Dengan Perbuatan
Contohnya : Shalat dan Hajji. Dalam Qur’an kita diperintah untuk Shalat dan Hajji, tetapi caranya yang tertentu tidak terdapat dalam Qur’an.
Maka ayat – ayat Shalat dan Hajji dalam Qur’an itu, dinamakan Mujmal
Cara Shalat dan cara melaksanakan Ibadah Hajji itu, kebanyakannya Nabi SAW terangkan dengan “perbuatan”, yakni Beliau mengerjakan begini dan begitu, sambal menyuruh para Shahabat menirunya.
Karena cara – cara itu dilakukannya dengan perbuatan, maka dinamakan “bayan dengan perbuatan”

b.      Bayan Dengan Tulisan
Contohnya : Zakat. Dalam Qur’an, ada perintah mengeluarkan zakat, tetapi, ukuran banyaknya dan waktu mengeluarkannya tidak terdapat dalam Qur’an.
Kebanyakan ukuran banyaknya dan waktu mengeluarkan zakat, dinyatakan Nabi SAW dengan tulisan atau surat
Karena demikian. Jadi, dinamakan “bayan dengan tulisan”

c.       Bayan Dengan Isyarat
Contohnya :  Tayamum, Rasulullah SAW menunjukkan kepada seorang Shahabatnya yang bernama ‘Ammar bin Yasir, cara bertayammum sambal bersabdah :
إنَّمَا يَكْفِيْكَ أنْ تَقُوْلَ بِيَدَيْكَ هَكَذَا
“Tidak lain, melainkan cukup bagimu, engkau berbuat dengan kedua tanganmu “begini” {Muslim}
Sambal berkata “begini”, Nabi SAW menepuk kedua telapak tangannya di bumi, lalu meniup kedua telapak tangannya itu, kemudian diusapkannya di muka Beliau, lalu di sebelah luar telapak tangannya.
Karena Nabi “begini” dengan diiringi caranya sebagai isyarat, maka dinamakan penerangan tadi “bayan dengan isyarat”

d.      Bayan Dengan Omongan
Contohnya : Tentang puasa Tamattu[1]
Firman Allah SWT :
....فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ.....
“..... maka berangsiapa tidak mendapat (beli binatang qurban), hendaklah ia berpuasa tiga hari dalam masa hajji, dan tujuh hari apabila kamu kembali, yang demikian itu, sepuluh (hari) yang sempurna” {Al – Baqarah :196}
KETERANGAN :
Perkataan “tujuh” dalam bahasa Arab sering ditujukan kepada banyak, lebih dari tuju. Maka, untuk menetapkan “tujuh betul – betul” yang ada dalam ayat tersebut adalah dengan ucapan. Karena ini, dinamakan : “Bayan dengan omongan”.
Pembicaraan Bayan ini, bersamaan dengan Khash atau Muqayyad, tentang :
a.       Ada yang bersambung
b.      Ada yang terpisah
c.       Ada Ayat dengan Ayat
d.      Ada Ayat dengan Hadits
e.       Ada Hadits dengan Hadits
f.       Tidak boleh semata – mata fikiran, perasaan, faham, adat, atau perjalanan dan omongan seorang shahabat Nabi SAW dijadikan Bayan

2.      Perbedaan – Perbedaan
‘Am, Muthlaq, dan Mujmal, nampaknya hampir sama.
Karena itu, baiknya diperhatikan benar – benar perbedaan tiga kata – kata ini. Perbedaan – perbedaan itu dapat kita ringkas sebagai berikut :
‘Am = menuju kepada pembicaraan yang berhubung dengan tertujunya sesuatu lafadz kepada tiap – tiap satu dari salah satu jenis.
Muthlaq = menuju kepada pembicaraan yang kita tujukan kepada kepada haqiqat (sifat) sesuatu.
Mujmal = menuju kepada membicarakan sesuatu kalimat yang sama beratnya terkena kepada dua benda atau keadaan.
Jadi, ketika memperkatakan, lafadz (الْبُيُوْع), maka dapat didudukkan dalam 3 pembicaraan :
1.      Dalam pembicaraan ‘Am (umum), lafadz itu tertuju kepada tiap – tiap macam jual beli yang ada di dunia dengan tidak melihat kepada sifatnya.
2.      Dalam pembicaraan Muthlaq, kata – kata itu kita tujukan kepada sifatnya, umpamanya : Jual – beli yang shah, tidak shah, tunai dan sebagainya.
3.      Dalam Mujmal, dibicarakan, apakah (الْبُيُوْع) itu maksudnya jual atau beli, sebab kedua arti ini sama beratnya.


[1] Tamattu’ = suatu macam ibadah hajji. Caranya : kita berumrah dalam musim hajji. Lalu di musim hajji itu juga, pada tgl 8 Dzul Hijjah, kita berihram dan mengerjakan ibadah hajji

7/17/18

QAIDAH - QAIDAH USHUL FIQIH (7)

المُجْمَلُ
Mujmal itu artinya yang terjumlah, yang terkumpul, yang tersembunyi.
Dalam ilmu Ushul, ditujukan kepada : suatu perkataan dalam satu susunan yang mempunyai dua arti yang sama beratnya
Teganya : Mujmal itu satu lafadz dalam satu susunan yang maksudnya tidak dapat ditentukan melainkan mesti ada yang menentukannya
Seperti firman Allah :
وَمْسَحُوْا بِرُؤُوْ سِكُمْ....
“dan hendaklah kamu sapu kepala – kepala kamu” {Al – Maidah : 6}
KETERANGAN :
Perkataan “hendaklah kamu sapu” itu, dikatakan “mujmal” karena mempunyai dua arti, yaitu sapu banyak dan sapu sedikit. “sapu sedikit” dan “sapu banyak” ini tentang arti sama beratnya.
Umpamanya perkataan (قُرْءٌ)  quru’ dalam satu susunan “Haidh” dikatakan “quru’”, “bersih dari haidh” juga disebut “quru’”
Kedua – dua arti ini sama beratnya.
Untuk menentukan salah satu maknanya itu, perlu kepada keterangan
Sebagaimana tidak boleh beramal dengan Umum dan Muthlaq sebelum memeriksa yang menentukannya dan mengikatnya, maka, begitu juga, tidak boleh beramal dengan arti “mujmal”, sebelum memeriksa keterangannya.
Mujmal ini hamper bersamaan dengan ‘Am (umum) dan Muthlaq.
Oleh karena itu, perlu dibeda – bedakan antara ketiganya, supaya tidak keliru dalam menentukan masalahnya.

7/2/18

QAIDAH - QAIDAH USHUL FIQIH (6)

المُقَيَّدْ
Muqayyad = yang tidak terlepas, yang terikat
Yang dimaksud disini ialah : suatu perkataan yang terikat dengan sifat atau syarat atau sesuatu ketentuan
Muqayyad ini lawan dari muthlaq
Jalan mencari Muqayyad untuk lafadz yang Muthlaq itu “Taqyid” (تَقْيِيْد)  artinya mengikat.
Sifat, syarat atau sesuatu ketentuan bagi muthlaq itu dinamakan “Qayyid” (قَيْد)  yaitu ikatan, seperti kata – kala “berturut – turut” dibawah ini.
Contoh sambungan dari riwayat orang yang bersetubuh dalam bulan Ramadhan yang tersebut dalam pelajaran Muthlaq. Sesudah Rasulullah SAW bertanya, dan orang itu menjawab, maka Nabi SWA bertanya lagi :
فَهَلْ تَسْتَطِيْعُ أنْ تَصُوْمَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَينِ؟
“maka, adakah engkau kuasa puasa dua bulan berturut – turut ?”
KETERANGAN :
Perkataan “dua bulan berturut – turut” ini, dinamakan muqayyad, karena kata – kata “dua bulan” yang asalnya Muthlaq itu sudah terikat dengan perkataan “berturut – turut”.
“berturut – turut” itu sifat bagi “dua bulan”, ini disebut “qayyidnya. Sebagaimana “Khash, maka muqayyad ini pun :
a.       Ada yang bersambung
b.      Ada yang berpisah
c.       Ada Ayat Muthlaq dan Muqayyadnya juga Ayat
d.      Ada Ayat Muthlaq dan Muqayyadnya Hadits
e.       Ada Hadits Muthlaq dan Muqayyadnya Hadits
f.       Adapun semata – mata fikiran, perasaan, faham adat, dan perjalanan atau omongan seorang shahabat tidak menjadi Qayyid
g.      Muthlaq dimasukkan pada Muqayyad, seperti umum dimasukkan pada Khash
Kedudukan Muqayyad dari (a) sampai (g) itu, bersamaan dengan pembicaraan Khash tentang itu, hanya berbeda dalam tujuan dan makna satu – satu kalimatnya

About

Ahmad Fathullah, M.Pd
No.Hp : wa.me/6282143358433 (SMS/WA)
Alamat : Jl. Bulak Sari 1/59 Surabaya
Email : ad.fathullah@gmail.com
Fb : ahmad.fathullah.10
IG : a.fathullah94