10/2/19

PENILAIAN TENGAH SEMESTER GANJIL Kelas VIII SMP MUHAMMADIYAH 15 TAHUN PELAJARAN 2019 -2020

PENILAIAN TENGAH SEMESTER GANJIL
SMP MUHAMMADIYAH 15
TAHUN PELAJARAN 2019 -2020
 

Mata Pelajaran   : AL ISLAM                                     Hari/Tanggal   : Jum’ah, 4 Oktober 2019
Kelas                  : VIII                                                 Waktu             : 75 menit

يْمِالرَّحِالرَّحْمَنِ اللهِ بِسْــــــــــــــــــمِ
I.          Berilah Tanda Silang (X) Huruf a, b, c, Atau d Pada Jawaban Yang Paling Benar!
13.    yang termasuk dalam surah as – sab’uththiwaal ( tujuh surat yang panjang ) adalah …
a.     Al  Hijr                                         c. yunus
b.     Al - Anfal                                     d. Ad  Dhuha
14.    Kitab Taurad diturunkan kepada Nabi …
a.     Musa a.s                                      c. yunus a.s
b.     Dawud a.s                                   d. Muhammad S.A.W
15.    Kitab Zabur diturunkan kepada Nabi …
a. Musa a.s                                       c. yunus a.s
b. Dawud a.s                                    d. Muhammad S.A.W
25.  Bermain Judi dilarang oleh Allah dalam Qur’an Surah ….
a.     Al – Maidah : 90                          c. Al – Maidah : 92
b.     Al – Maidah : 91                          d. Al – Maidah : 93

II.               Jawablah pertanyaan – pertanyaan berikut dengan jelas dan benar!
4.  Sebutkan perilaku yang mencerminkan iman pada sifat Allah tentang wahdaniyah !
5.  Sebutkan minimal 3 bahaya minuman keras yang kalian ketahui !
selengkapnya bisa kalian lihat di link berikut ini :
1.download di Link DOWNLOAD
2. Lihat dan baca di Link berikut : DOWNLOAD II

9/19/19

Sejarah Hidup Ahmad Fathullah

Ahmad Fathullah lahir di Surabaya tahun 1994 dari pasangan Ahmad Hasan dan Suryanti. Sejak kecil ia dipanggil Ahmad, sementara di kampung halamannya ia lebih dikenal dengan sapaan Abang Ahmad. Kedua orang tuanya memberi teladan kuat dalam hal pendidikan dan dakwah. Sang ayah, Ahmad Hasan, adalah seorang pengajar sekaligus Mudir Pondok Pesantren Al-Manar di Jambi. Sang ibu, Suryanti, selain menjadi ibu rumah tangga juga berperan penting sebagai guru ngaji yang membimbing anak-anak di lingkungan sekitar. Dari merekalah Ahmad kecil menyerap nilai ikhlas, kesederhanaan, dan kepedulian sosial.

Pendidikan dan Masa Mondok

Ahmad mengawali pendidikannya di TK ABA 41 Surabaya, lalu melanjutkan ke SD Muhammadiyah 19 Surabaya. Sejak dini ia telah dibiasakan dengan atmosfer sekolah Muhammadiyah yang menekankan disiplin, religiusitas, dan jiwa pengabdian.

Pada masa SD inilah keberanian Ahmad mulai terlihat. Saat duduk di kelas 5, ia sudah berani tampil melaungkan azan di Masjid Al Ihsan Sabilillah, Sidotopo, sebuah masjid yang dikelola oleh Muhammadiyah. Momen ini menjadi pengalaman berharga yang semakin menumbuhkan rasa percaya diri dan kedekatannya dengan kegiatan keagamaan di masyarakat.

Setelah menamatkan sekolah dasar, Ahmad melanjutkan pendidikan di Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) Bangil, tempat ia menempuh jenjang SMP hingga SMA. Kehidupan di pesantren melatihnya hidup sederhana, mandiri, serta terbiasa dengan ritme ibadah dan belajar yang ketat. Masa mondok di Bangil menjadi fase penting yang menempa mentalitasnya sebagai pribadi tangguh, disiplin, dan siap mengabdi.

Studi Tinggi

Selepas lulus dari pesantren, Ahmad kembali ke Surabaya dan menempuh studi di Universitas Muhammadiyah Surabaya dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI). Di kampus ini, ia berhasil menamatkan pendidikan S1 hingga S2, memperkuat kapasitas akademiknya sekaligus memperdalam komitmen pada dunia pendidikan.

Masa kuliah juga menjadi ruang pengabdian yang penting baginya. Setiap bulan Ramadhan, Ahmad aktif terjun ke berbagai desa untuk pengabdian masyarakat. Ia dipercaya menjadi imam sholat, penceramah, sekaligus pendamping kegiatan keagamaan. Pengalaman ini melatihnya untuk tampil di tengah masyarakat, berinteraksi langsung dengan jamaah, serta menyebarkan nilai-nilai dakwah dengan penuh semangat.

Awal Pengabdian di Dunia Pendidikan

Langkah awal Ahmad sebagai pendidik dimulai pada tahun 2012, ketika ia mulai membantu mengajar di almamaternya, SD Muhammadiyah 19 Surabaya. Pada 2015, ia resmi diangkat sebagai guru tetap di sekolah tersebut.

Selain di sekolah dasar, Ahmad juga memperluas kiprahnya. Pada tahun 2017, ia sempat mengajar mata pelajaran Al-Islam di SLB Pedagogia Surabaya, sebuah pengalaman berharga karena berinteraksi dengan anak-anak berkebutuhan khusus yang menuntut kesabaran dan metode pengajaran berbeda.

Masih di tahun yang sama, ia juga dipercaya mengajar di SMP Muhammadiyah 15 Surabaya. Tugas ini ia jalani hingga tahun 2019, memberi pengalaman berharga dalam mendampingi remaja usia sekolah menengah. Dari pengalaman itu, Ahmad semakin memahami tantangan pendidikan di berbagai jenjang dan kondisi, serta memperkaya wawasannya sebagai seorang pendidik.

Kiprah Sosial

Pengabdiannya tidak hanya berhenti di dunia sekolah. Pada tahun 2018, Ahmad mulai aktif membantu di Panti Asuhan Muhammadiyah Semampir. Di tempat ini, ia ikut serta dalam berbagai kegiatan sosial, membina, mendampingi, dan memberi semangat hidup bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Kiprahnya di panti asuhan ini menjadi wujud nyata pengabdian yang lebih luas, menghubungkan dunia pendidikan formal dengan dakwah sosial-kemanusiaan.

Identitas dan Pengaruh

Dengan latar belakang keluarga yang sarat nilai dakwah dan pendidikan, Ahmad Fathullah tumbuh menjadi sosok muda Muhammadiyah yang konsisten mengabdi. Sapaan akrabnya, Abang Ahmad, mencerminkan kedekatan dengan masyarakat dan anak-anak asuh yang ia dampingi. Kini ia dikenal sebagai seorang guru, pendamping anak-anak, sekaligus bagian dari generasi penerus yang berusaha menebar cahaya kebaikan melalui pendidikan, dakwah, dan kepedulian sosial.

8/19/19

PEMBIASAAN DAN PENDIDIKAN ANAK DIDIK MENJADI IMAM SHALAT SEJAK DINI Dalam Perspektif Al-Qur'an, Hadis, Fikih, dan Pendidikan

Oleh Ahmad Fathullah, M.Pd.


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Shalat merupakan ibadah yang memiliki kedudukan sangat penting dalam Islam. Shalat tidak hanya menjadi bentuk penghambaan seorang Muslim kepada Allah سبحانه وتعالى, tetapi juga mengandung nilai pendidikan berupa kedisiplinan, ketertiban, tanggung jawab, kebersamaan, dan kepemimpinan.

Salah satu bentuk pelaksanaan shalat yang memiliki nilai pendidikan tinggi adalah shalat berjamaah. Dalam shalat berjamaah terdapat imam dan makmum. Imam tidak hanya berdiri di depan jamaah, tetapi juga bertanggung jawab memimpin pelaksanaan shalat sesuai dengan tuntunan syariat.

Oleh karena itu, kemampuan menjadi imam perlu dikenalkan dan dilatih kepada anak sejak dini. Anak didik tidak cukup hanya dibiasakan menjadi makmum, tetapi juga perlu diberikan kesempatan untuk belajar berdiri di depan, membaca Al-Qur'an dengan baik, memahami tata cara shalat, serta belajar bertanggung jawab terhadap jamaah.

Hal ini memiliki dasar dari hadis Nabi Muhammad ﷺ tentang 'Amr bin Salamah radhiyallahu 'anhu, yang menjadi imam ketika masih berusia enam atau tujuh tahun. Dalam riwayat tersebut, beliau menjadi imam karena memiliki hafalan Al-Qur'an yang baik.

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

Artinya:

“Yang menjadi imam suatu kaum adalah orang yang paling baik bacaan Al-Qur'annya.”

HR. Muslim.

3/28/19

Bagaimana pendidikan dalam perspektif teori interaksionisme simbolisme ?

Teori Interaksionisme Simbolik
Inti pandangan pendekatan ini adalah individu. Para ahli di belakang perspektif ini mengatakan bahwa individu merupakan hal yang paling penting dalam konsep sosiologi. Teori ini beranggapan bahwa individu adalah obyek yang dapat secara langsung ditelaah dan dianalisis melalui interaksinya dengan individu yang lain.
Dalam perspektif ini dikenal nama sosiolog George Herbert Mead (1863–1931)

About

Ahmad Fathullah, M.Pd.
Pendidikan • Keislaman • Muhammadiyah • Pengabdian
Surabaya, Jawa Timur
WhatsApp  •  Email
Facebook  •  Instagram: @a.fathullah94