Oleh : Ahmad Fathullah
A.
PENDAHULUAN
Stunting merupakan salah satu bentuk malnutrisi kronis yang menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Menurut WHO, stunting terjadi ketika tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan, infeksi berulang, dan stimulasi lingkungan yang tidak memadai.[1] Masalah ini bukan hanya isu kesehatan, melainkan juga menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM), terutama di negara berkembang seperti Indonesia.
B.
FENOMENA GLOBAL DAN NASIONAL
Secara global, stunting masih menjadi masalah utama
kesehatan masyarakat. Data dari UNICEF (2023)[2]
menunjukkan bahwa lebih dari 148 juta anak balita mengalami stunting di seluruh
dunia, sebagian besar berada di Asia Selatan dan Sub-Sahara Afrika.
Negara-negara seperti India, Nigeria, dan Pakistan menyumbang lebih dari
sepertiga kasus stunting global.
Di Indonesia, meskipun terjadi penurunan, prevalensi
stunting masih cukup tinggi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI)
2022, angka stunting nasional mencapai 21,6%. Meski menurun dari 24,4% pada
2021, angka ini masih di atas ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 20%.
Pemerintah Indonesia melalui Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting
menargetkan penurunan hingga 14% pada tahun 2024.[3]
Wilayah-wilayah dengan prevalensi tinggi antara lain Nusa Tenggara Timur
(35,3%), Sulawesi Barat (35%), dan Kalimantan Selatan (30,5%).[4]
C.
FAKTOR PENYEBAB
Stunting disebabkan oleh interaksi kompleks antara
faktor biologis, lingkungan, dan sosial ekonomi. Menurut framework UNICEF
(1990) yang diperbarui dalam Global Nutrition Report (2021), penyebab stunting
terbagi dalam tiga tingkatan: penyebab langsung, tidak langsung, dan akar
penyebab.
1.
Penyebab langsung:
Asupan
gizi yang tidak adekuat, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).
Penyakit
infeksi berulang, seperti diare dan ISPA, yang mengganggu penyerapan nutrisi.[5]
2.
Penyebab tidak langsung:
Kualitas
pengasuhan: minimnya pemahaman ibu tentang gizi, sanitasi, dan praktik
pemberian makan anak.
Sanitasi
buruk dan akses air bersih terbatas: meningkatkan paparan terhadap patogen
penyebab penyakit.[6]
3.
Akar penyebab:
Kemiskinan
struktural, ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan
pangan bergizi.
Sebagai contoh, hasil Riskesdas 2018 menunjukkan
bahwa anak dari keluarga miskin memiliki risiko stunting dua kali lebih tinggi
dibanding anak dari keluarga kaya. Selain itu, angka stunting juga lebih tinggi
pada ibu dengan pendidikan rendah.
D.
AKIBAT STUNTING
Dampak stunting sangat luas dan bersifat jangka
panjang, baik pada individu maupun masyarakat.
Perkembangan anak terhambat: Stunting menurunkan
kemampuan kognitif, daya konsentrasi, dan prestasi akademik.[7]
Risiko penyakit tidak menular meningkat: Anak
stunting lebih rentan mengalami obesitas, hipertensi, diabetes, dan penyakit
jantung saat dewasa.[8]
Produktivitas ekonomi menurun: Studi oleh World Bank
(2016)[9]
menyebutkan bahwa stunting dapat menurunkan pendapatan individu hingga 10% saat
dewasa dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional hingga 3% dari PDB.
Intergenerational cycle of poverty: Anak yang
mengalami stunting berpotensi menjadi orang tua dengan anak stunting pula,
menciptakan siklus kemiskinan dan kekurangan gizi lintas generasi.
E.
SOLUSI DAN STRATEGI PENANGGULANGAN
Penanganan stunting membutuhkan pendekatan
multisektor yang berkelanjutan dan berbasis bukti ilmiah. Solusi dapat
dikelompokkan dalam dua kategori besar: intervensi spesifik dan intervensi
sensitif.
1.
Intervensi Spesifik (berbasis kesehatan
dan gizi)
Pemberian
suplemen zat besi dan asam folat kepada ibu hamil, Pemantauan tumbuh kembang
anak di posyandu, Pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita gizi buruk, Pemberian
ASI eksklusif dan MP-ASI berkualitas.[10]
2.
Intervensi Sensitif (lintas sektor)
Pendidikan
gizi dan pola asuh kepada ibu dan keluarga, Penyediaan air bersih dan sanitasi
layak, Peningkatan ekonomi keluarga melalui bantuan sosial dan program
ketahanan pangan, Pendidikan formal dan non-formal bagi perempuan dan remaja
putri
3.
Pendekatan Konvergensi Program
Pemerintah
Indonesia mengembangkan pendekatan konvergensi stunting, yakni menyatukan
program lintas sektor (kesehatan, pendidikan, sosial, BKKBN, desa) di tingkat
kabupaten/kota dan desa. Program ini difasilitasi oleh pendampingan,
perencanaan berbasis data, serta monitoring melalui ePPGBM (Elektronik
Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat).
4.
Peran Masyarakat dan Lembaga Sosial
Organisasi
kemasyarakatan seperti PKK, kader posyandu, Muhammadiyah, NU, dan lembaga
sosial lainnya memiliki peran besar dalam edukasi masyarakat, pendampingan ibu
hamil dan balita, serta penguatan komunitas sehat. Di banyak wilayah, posyandu
yang dikelola komunitas terbukti efektif sebagai lini terdepan deteksi dan
intervensi dini.
F.
KESIMPULAN
Stunting adalah masalah kronis yang mengancam masa depan bangsa.
Dampaknya tidak hanya terlihat secara fisik tetapi juga terhadap kecerdasan,
produktivitas, dan daya saing suatu negara. Di tengah upaya pemerintah
menurunkan prevalensi stunting, dibutuhkan sinergi lintas sektor, penguatan
program berbasis keluarga, serta kesadaran kolektif masyarakat. Stunting bukan
hanya soal tubuh pendek, melainkan tentang kesempatan hidup yang terenggut
sejak dini. Maka, upaya pencegahan sejak 1.000 hari pertama kehidupan harus
menjadi prioritas bersama untuk menjamin masa depan generasi emas Indonesia.
Daftar Pustaka
Bappenas. (2021). Strategi Nasional
Percepatan Penurunan Stunting 2021–2024. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas.
Bhutta, Z. A., et al. (2013).
"Evidence-based interventions for improvement of maternal and child
nutrition: what can be done and at what cost?" The Lancet, 382(9890),
452–477.
Black, R. E., et al. (2013).
"Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and
middle-income countries." The Lancet, 382(9890), 427–451.
Grantham-McGregor, S., et al. (2007).
"Developmental potential in the first 5 years for children in developing
countries." The Lancet, 369(9555), 60–70.
Humphrey, J. H. (2009). "Child
undernutrition, tropical enteropathy, toilets, and handwashing." The
Lancet, 374(9694), 1032–1035.
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Hasil
SSGI 2022. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
UNICEF. (2023). The State of the World's
Children 2023: For Every Child, Nutrition. New York: UNICEF.
Victora, C. G., et al. (2008).
"Maternal and child undernutrition: consequences for adult health and
human capital." The Lancet, 371(9609), 340–357.
WHO. (2021). Child Growth Standards.
Geneva: World Health Organization.
World Bank. (2016). The Cost of Stunting:
Why Policy Action is Urgent. Washington DC: World Bank.
[1] WHO. (2021). Child Growth Standards.
Geneva: World Health Organization.
[2] UNICEF. (2023). The State of the
World's Children 2023: For Every Child, Nutrition. New York: UNICEF.
[3] Bappenas. Strategi Nasional Percepatan
Penurunan Stunting 2021–2024. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas. (2021)
[4] Kementerian Kesehatan RI. (2022). Hasil
SSGI 2022. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.
[5] Black, R. E., et al. (2013). "Maternal
and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income
countries." The Lancet, 382(9890), 427–451.
[6] Humphrey, J. H. (2009). "Child
undernutrition, tropical enteropathy, toilets, and handwashing." The
Lancet, 374(9694), 1032–1035.
[7] Grantham-McGregor, S., et al. (2007).
"Developmental potential in the first 5 years for children in
developing countries." The Lancet, 369(9555), 60–70.
[8] Victora, C. G., et al. (2008). "Maternal
and child undernutrition: consequences for adult health and human
capital." The Lancet, 371(9609), 340–357.
[9] World Bank. (2016). The Cost of
Stunting: Why Policy Action is Urgent. Washington DC: World Bank.
[10] Bhutta, Z. A., et al. (2013). "Evidence-based
interventions for improvement of maternal and child nutrition: what can be done
and at what cost?" The Lancet, 382(9890), 452–477.
No comments:
Post a Comment