7/7/25

STUNTING ANCAMAN KESEHATAN GLOBAL DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN SDM INDONESIA


Oleh : Ahmad Fathullah

A.    PENDAHULUAN

Stunting merupakan salah satu bentuk malnutrisi kronis yang menghambat pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Menurut WHO, stunting terjadi ketika tinggi badan anak lebih rendah dari standar usianya akibat kekurangan gizi yang berkepanjangan, infeksi berulang, dan stimulasi lingkungan yang tidak memadai.[1] Masalah ini bukan hanya isu kesehatan, melainkan juga menjadi tantangan besar dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM), terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

 

B.     FENOMENA GLOBAL DAN NASIONAL

Secara global, stunting masih menjadi masalah utama kesehatan masyarakat. Data dari UNICEF (2023)[2] menunjukkan bahwa lebih dari 148 juta anak balita mengalami stunting di seluruh dunia, sebagian besar berada di Asia Selatan dan Sub-Sahara Afrika. Negara-negara seperti India, Nigeria, dan Pakistan menyumbang lebih dari sepertiga kasus stunting global.

Di Indonesia, meskipun terjadi penurunan, prevalensi stunting masih cukup tinggi. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022, angka stunting nasional mencapai 21,6%. Meski menurun dari 24,4% pada 2021, angka ini masih di atas ambang batas yang ditetapkan WHO yaitu 20%. Pemerintah Indonesia melalui Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting menargetkan penurunan hingga 14% pada tahun 2024.[3] Wilayah-wilayah dengan prevalensi tinggi antara lain Nusa Tenggara Timur (35,3%), Sulawesi Barat (35%), dan Kalimantan Selatan (30,5%).[4]

 

C.    FAKTOR PENYEBAB

Stunting disebabkan oleh interaksi kompleks antara faktor biologis, lingkungan, dan sosial ekonomi. Menurut framework UNICEF (1990) yang diperbarui dalam Global Nutrition Report (2021), penyebab stunting terbagi dalam tiga tingkatan: penyebab langsung, tidak langsung, dan akar penyebab.

1.      Penyebab langsung:

Asupan gizi yang tidak adekuat, terutama pada 1.000 hari pertama kehidupan (HPK).

Penyakit infeksi berulang, seperti diare dan ISPA, yang mengganggu penyerapan nutrisi.[5]

2.      Penyebab tidak langsung:

Kualitas pengasuhan: minimnya pemahaman ibu tentang gizi, sanitasi, dan praktik pemberian makan anak.

Sanitasi buruk dan akses air bersih terbatas: meningkatkan paparan terhadap patogen penyebab penyakit.[6]

3.      Akar penyebab:

Kemiskinan struktural, ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan, pendidikan, dan pangan bergizi.

Sebagai contoh, hasil Riskesdas 2018 menunjukkan bahwa anak dari keluarga miskin memiliki risiko stunting dua kali lebih tinggi dibanding anak dari keluarga kaya. Selain itu, angka stunting juga lebih tinggi pada ibu dengan pendidikan rendah.

 

D.    AKIBAT STUNTING

Dampak stunting sangat luas dan bersifat jangka panjang, baik pada individu maupun masyarakat.

Perkembangan anak terhambat: Stunting menurunkan kemampuan kognitif, daya konsentrasi, dan prestasi akademik.[7]

Risiko penyakit tidak menular meningkat: Anak stunting lebih rentan mengalami obesitas, hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung saat dewasa.[8]

Produktivitas ekonomi menurun: Studi oleh World Bank (2016)[9] menyebutkan bahwa stunting dapat menurunkan pendapatan individu hingga 10% saat dewasa dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional hingga 3% dari PDB.

Intergenerational cycle of poverty: Anak yang mengalami stunting berpotensi menjadi orang tua dengan anak stunting pula, menciptakan siklus kemiskinan dan kekurangan gizi lintas generasi.

 

E.     SOLUSI DAN STRATEGI PENANGGULANGAN

Penanganan stunting membutuhkan pendekatan multisektor yang berkelanjutan dan berbasis bukti ilmiah. Solusi dapat dikelompokkan dalam dua kategori besar: intervensi spesifik dan intervensi sensitif.

1.      Intervensi Spesifik (berbasis kesehatan dan gizi)

Pemberian suplemen zat besi dan asam folat kepada ibu hamil, Pemantauan tumbuh kembang anak di posyandu, Pemberian makanan tambahan (PMT) untuk balita gizi buruk, Pemberian ASI eksklusif dan MP-ASI berkualitas.[10]

2.      Intervensi Sensitif (lintas sektor)

Pendidikan gizi dan pola asuh kepada ibu dan keluarga, Penyediaan air bersih dan sanitasi layak, Peningkatan ekonomi keluarga melalui bantuan sosial dan program ketahanan pangan, Pendidikan formal dan non-formal bagi perempuan dan remaja putri

3.      Pendekatan Konvergensi Program

Pemerintah Indonesia mengembangkan pendekatan konvergensi stunting, yakni menyatukan program lintas sektor (kesehatan, pendidikan, sosial, BKKBN, desa) di tingkat kabupaten/kota dan desa. Program ini difasilitasi oleh pendampingan, perencanaan berbasis data, serta monitoring melalui ePPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat).

4.      Peran Masyarakat dan Lembaga Sosial

Organisasi kemasyarakatan seperti PKK, kader posyandu, Muhammadiyah, NU, dan lembaga sosial lainnya memiliki peran besar dalam edukasi masyarakat, pendampingan ibu hamil dan balita, serta penguatan komunitas sehat. Di banyak wilayah, posyandu yang dikelola komunitas terbukti efektif sebagai lini terdepan deteksi dan intervensi dini.

 

F.     KESIMPULAN

Stunting adalah masalah kronis yang mengancam masa depan bangsa. Dampaknya tidak hanya terlihat secara fisik tetapi juga terhadap kecerdasan, produktivitas, dan daya saing suatu negara. Di tengah upaya pemerintah menurunkan prevalensi stunting, dibutuhkan sinergi lintas sektor, penguatan program berbasis keluarga, serta kesadaran kolektif masyarakat. Stunting bukan hanya soal tubuh pendek, melainkan tentang kesempatan hidup yang terenggut sejak dini. Maka, upaya pencegahan sejak 1.000 hari pertama kehidupan harus menjadi prioritas bersama untuk menjamin masa depan generasi emas Indonesia.

 


Daftar Pustaka

Bappenas. (2021). Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting 2021–2024. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas.

 

Bhutta, Z. A., et al. (2013). "Evidence-based interventions for improvement of maternal and child nutrition: what can be done and at what cost?" The Lancet, 382(9890), 452–477.

 

Black, R. E., et al. (2013). "Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries." The Lancet, 382(9890), 427–451.

 

Grantham-McGregor, S., et al. (2007). "Developmental potential in the first 5 years for children in developing countries." The Lancet, 369(9555), 60–70.

 

Humphrey, J. H. (2009). "Child undernutrition, tropical enteropathy, toilets, and handwashing." The Lancet, 374(9694), 1032–1035.

 

Kementerian Kesehatan RI. (2022). Hasil SSGI 2022. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.

 

UNICEF. (2023). The State of the World's Children 2023: For Every Child, Nutrition. New York: UNICEF.

 

Victora, C. G., et al. (2008). "Maternal and child undernutrition: consequences for adult health and human capital." The Lancet, 371(9609), 340–357.

 

WHO. (2021). Child Growth Standards. Geneva: World Health Organization.

 

World Bank. (2016). The Cost of Stunting: Why Policy Action is Urgent. Washington DC: World Bank.



[1] WHO. (2021). Child Growth Standards. Geneva: World Health Organization.

[2] UNICEF. (2023). The State of the World's Children 2023: For Every Child, Nutrition. New York: UNICEF.

[3] Bappenas. Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting 2021–2024. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas. (2021)

[4] Kementerian Kesehatan RI. (2022). Hasil SSGI 2022. Jakarta: Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan.

[5] Black, R. E., et al. (2013). "Maternal and child undernutrition and overweight in low-income and middle-income countries." The Lancet, 382(9890), 427–451.

[6] Humphrey, J. H. (2009). "Child undernutrition, tropical enteropathy, toilets, and handwashing." The Lancet, 374(9694), 1032–1035.

[7] Grantham-McGregor, S., et al. (2007). "Developmental potential in the first 5 years for children in developing countries." The Lancet, 369(9555), 60–70.

[8] Victora, C. G., et al. (2008). "Maternal and child undernutrition: consequences for adult health and human capital." The Lancet, 371(9609), 340–357.

[9] World Bank. (2016). The Cost of Stunting: Why Policy Action is Urgent. Washington DC: World Bank.

[10] Bhutta, Z. A., et al. (2013). "Evidence-based interventions for improvement of maternal and child nutrition: what can be done and at what cost?" The Lancet, 382(9890), 452–477.

No comments:

About

Ahmad Fathullah, M.Pd
No.Hp : wa.me/6282143358433 (SMS/WA)
Alamat : Jl. Bulak Sari 1/59 Surabaya
Email : ad.fathullah@gmail.com
Fb : ahmad.fathullah.10
IG : a.fathullah94