2/5/17

Model-model Pembelajaran

Proses belajar mengajar sangat menentukan peningkatan kualitas hasil belajar. Perolehan hasil belajar berupa nilai-nilai dan keterampilan tertentu terukur melalui proses dan hasil belajar. Guna menopang tercapainya tujuan pendidikan secara menyeluruh, mesti dilakukan inovasi dalam proses pembelajaran. Dengan menggunakan metode yang tepat. Pada kurikulum 2013 dapat dilihat melalui kegiatan mengamati, menanya, mengekplorasi, mengasosiasi, dan mengkomunikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut disinyalirdapat mengakomodasi tuntutan perkembangan seluruh aspek dalam diri peserta didik, baik aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.

Active learning selama ini dianggap kurang dapat mengemas pembelajaran yang bermakna danuseful. Guru yang profesional ditantang untuk dapat mengelolah kelas dengan baik dan menciptakan suasana pembelajaran yang “having Fun”. Terwujudnyaactive learning dalam kelasdiawali dari cara guru menata pembelajaran dengan inovatif.Keterlaksanaan pembelajaran yang baik dimulai dari kepiawaian guru membangkitkan motivasi peserta didik;guru memotivasi dan membangun serta menyelaraskan atau memperluas skema atau pengetahuan dasar yang dimiliki peserta didik, baik yang berkaitan dengan intelektualitas, personal, sosial, emosional dan kultural.

Berikut beberapa alternative metode dalam pembelajaran PAI.

A. TESTIMONI
1. Deskripsi

Siswa menulis pengalaman pribadi yang terkait dengan materi yang diajarkan kemudian membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

2. Langkah-langkah

a. Appersepsi (absen, motivasi dan Instruksi awal, pretest).
b. Pengamatan tekstual (tadarus Al Quran yang berhubungan dengan materi).
c. Pengamatan kontekstual (video pembelajaran terkait tema).
d. Menulis bebas di kertas kerja (siswa tidak perlu menulis identitas, namun sudah diberi kode yang hanya diketahui guru) yang telah di sediakan tentang pengalaman pribadi yang terkait dengan materi yang realistis dan kontekstual.
e. Guru membagi kelompok dengan cara hitung deret angka 1 – 6, kemudian di ulangi kembali sampai siswa habis.
f. Kemudian siswa bergabung dengan kelompoknya masing-masing berdasarkan angka yang sama.
g. Guru mengumpulkan kertas kerja testimoni perkelompok kemudian guru mendistribusikan kertas kerja tersebut kepada kelompok lain.
h. Siswa dalam kelompok berdiskusi untuk mencermati, mengidentifikasi dan mengklasifikasikan testimoni kelompok lain. Klasifikasi dibuat dalam bentuk kata kunci yang dibatasi jumlahnya baik kelebihan, kekurangan, maupun tantangan serta solusi atau saran pemecahan masalah pada kertas plano yang sudah disediakan. Klasifikasi dapat ditambahkan gambar maupun simbol yang relevan.
i. Masing-masing kelompok menempelkan pekerjaannya di dinding atau papan tulis kemudian presentasi secara bergiliran dan diberikan kesempatan untuk tanya jawab.
j. Guru yang telah membuat catatan-catatan dari masing-masing kelompok, kemudian memberikan penguatan dari seluruh aspek (keaktifan siswa ketika diskusi, pembuatan map dan gambar, penulisan komentar, presentasi, dan tanya jawab, serta yang terkait dengan konten materi).


B. BERMAIN PERAN
1. Diskripsi

Metode bermain peran adalah metode dengan cara memberikan peran-peran tertentu atau serangkaian situasi belajar kepada murid dalam bentuk keterlibatan pengalaman sesungguhnya yang dirancang oleh guru dan didramatisasikan peran tersebut ke dalam sebuah pentas.

2. Langkah-langkah

a. Persiapan kelompok:

1) Mengidentifikasi dan memaparkan masalah
2) Menjelaskan masalah
3) Menafsirkan masalah
4) Menjelaskan bermain peran

b. Memilih partisipan:

1) Menganalisis peran
2) Memilih pemain yang akan melakukan peran

c. Mengatur setting:

1) Mengatur sesi-sesi tindakan
2) Kembali menegaskan peran
3) Lebih mendekat pada situasi yang bermasalah

d. Mempersiapkan peneliti:

1) Memutuskan apa yang akan dicari
2) Memberikan tugas pengamatan

e. Pemeranan:

1) Memulai bermain peran
2) Mengukuhkan bermain peran
3) Menyudahi bermain peran

f. Berdiskusi dan mengevaluasi

1) Mereview pemeranan
2) (Kejadian, posisi, kenyataan)
3) Mendiskusikan fokus-fokus utama
4) Mengembangkan pemeranan selanjutnya

g. Memerankan kembali:

1) Memainkan peran yang diubah,
2) Memberi masukan atau alternatif
3) Perilaku dalam langkah selanjutnya

h. Diskusi dan evaluasi: Sebagaimana dalam tahap enam

i. Berbagi dan menggeneralisasi Pengalaman

Menghubungkan situasi yang bermasalah dengan kehidupan di dunia nyata serta masalah-masalah yang baru muncul. Menjelaskan prinsip umum dalam tingkah laku.


C. THINK, PAIR AND SHARE

1. Deskripsi

Metode pembelajaran Think, Pairand Share (TPS) melatih siswa bagaimana mengutarakan sebuah pendapat dan belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi/tujuan pembelajaran. Metode ini dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mengingat suatu informasi, siswa juga dapat belajar dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum disampaikan di depan kelas. Selain itu, penggunaan metode pembelajaran Think,Pair and Share (TPS) dapat memperbaiki rasa percaya diri siswa karena semua siswa diberi kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dalam kelas.

2. Langkah-langkah

Langkah-langkah dalam metode pembelajaran Think,Pair, and Share (TPS) adalah sebagai berikut:

a. Langkah 1: Berfikir (Thinking)

1) Guru mengajukan suatu pertanyaan atau permasalahan yang dikaitkan dengan materi
2) Guru meminta siswa menggunakan waktu beberapa menit untuk berfikir sendiri jawaban atas pertanyaan atau masalah yang diberikan. ( 5’)
3) Siswa menuliskan jawabannya di kertas yang telah disediakan (2’)

b. Langkah 2: Berpasangan (Pairing)

1) Guru meminta siswa untuk berpasangan, maksimal 6 siswa per kelompok
2) Siswa secara bergantian menyampaikan ide atau gagasannya atas pertanyaan atau masalah (10’)
3) kelompok tersebut menyimpulkan gagasan baru dari hasil diskusi ( 10’) dan dituliskan di kertas plano berupa kata kunci yang dibatasi dan dengan gambar atau simbol

c. Langkah 3: Berbagi (Sharing)

1) kelompok Siswa mempresentasikan hasil kesimpulan gagasan atau idenya di depan kelas, ( tiap kelompok 5’).
2) Kelompok lain memberikan tanggapan .
3) Guru memberikan penguatan dan motivasi sesuai content


D. MAKE A MATCH

1. Deskripsi:

Make a match (mencari pasangan) adalah model pembelajaran pembelajaran dengan mencari pasangan melalui kartu pertanyaan dan jawaban yang harus ditemukan dan didiskusikan oleh peserta didik. Model ini dikembangkan oleh Lorna Curran (1994) dalam bukunya Language Arts and Cooperative Learning Lessons for The Little One. Inti dari model tersebut bagaimana peserta didik dapat mencocokkan kartunya dalam waktu yang telah ditentukan.

2. Tahapan:

a. Guru menyampaikan kompetensi siswa
b. Guru menjelaskan tahapan kegiatan pembelajaran.
c. Guru menjelaskan tahapan make a match.
d. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
e. Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
f. Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
g. Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama Asmaul Husna akan berpasangan dengan deskripsinya.
h. Berhadapan dengan pasangan dan menjelaskan makna kartu kepada pasangan.
i. Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
j. Guru menunjuk pasangan untuk presentasi.
k. Setiap pasangan mempresentasikan secara bergiliran hasil temuan mereka, sementara kelompok lain memperhatikan dan memberikan tanggapan dan koreksi.
l. Siswa membuat kesimpulan dari hasil yang dipresentasikan.
m. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
n. Penguatan oleh guru
o. Tugas


E. Expert Group

1. Deskripsi

Metode Expert Group adalah metode pembelajaran melalui pembentukan kelompok peserta didik yang berperan sebagai ahli dalam materi yang akan dibahas.Materi pelajaran yang paling cocok dilaksanakan melalui Metode Expert Group adalah materi yang mengandung unsur perbedaan atau pembagian misalnya Prinsip dan praktek ekonomi Islam (perbedaan strategi antar bank Islam), Sejarah Peradaban Islam (perbedaan prinsip dan strategi antar kerajaan Islam).

2. Tahapan

a. Guru memberikan pendahuluan (sekitar 10 menit) mengenai Euthanasia
b. Pembagian kelompok peserta didik Expert; dilakukan dengan cara mempersilahkan 2 orang peserta didik mewakili kelompok tertentu (ada 4 kelompok) sehingga jumlah peserta didik Expert menjadi 8 orang. (8 menit)
c. Guru memberikan 4 amplop yang berisi rangkuman pendapat masing-masing kelompok kepada peserta didik yang mewakili kelompok-kelompok tersebut (5 menit)
d. Guru memberikan waktu kepada peserta didik Expert untuk mempelajari rangkuman pendapat masing-masing (sekitar 10 menit)
e. Bersamaan dengan kegiatan poin d, guru mempersilahkan peserta didik yang bukan expert untuk membuat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan tema / materi pelajaran.
f. Tanya-Jawab, pertanyaan disampaikan oleh peserta didik bukan expert dan ditujukan kepada kelompok yang dia inginkan (15 menit)
g. Peserta didik diminta mengisi worksheet berisi argument yang mendukung dan menolak mengenai permasalahan / tema yang dibahas dalam tanya jawab sebelumnya (8 menit) – lihat contoh worksheet
h. Peserta didik menempelkan worksheet yang sudah terisi tersebut di atas buku catatannya (2 menit)
i. Peserta didik dipersilahkan keluar kelas per kelompok sambil membawa buku PR yang sudah disiapkan di atas meja dekat pintu keluar
j. Di dalam buku PR sudah disisipkan worksheet yang harus diisi pendapat peserta didik yang bersangkutan mengenai tema / materi


F. Snowball Throwing

1. Deskripsi

Model pembelajaran ini dapat digunakan untuk memberikan konsep pemahaman materi yang sulit kepada siswa, juga untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan dan kemampuan siswa dalam menguasai materi tersebut.Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok; dipilih ketua kelompok yang akan mewakili untuk menerima tugas dari guru; masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain kemudian siswa menjawab pertanyaan dari bola yang didapatkan.Snowball Throwing melatih siswa untuk lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya dalam satu kelompok. Lemparan pertanyaan menggunakan kertas berisi pertanyaan yang diremas menjadi sebuah bola kertas kemudian dilemparkan kepada siswa lain. Siswa yang menerima bola kertas lalu membuka dan menjawab pertanyaannya.

2. Tahapan

Tahapan yang dilakukan dalam menerapkan metode Snowball Throwingdalam pembelajaran adalah sebagai berikut:

a. Guru menyampaikan materi yang akan disajikan.
b. Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi.
c. Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya.
d. Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok.
e. Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama ±15 menit.
f. Setelah siswa dapat satu bola diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian.
g. Evaluasi.
h. Penutup.



G. Centerpiece

1. Diskripsi

Centerpiece yaitu pusat perhatian. Dalam istilah metode pembelajaran, centerpiece yaitu metode pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk mengeluarkan ide/gagasannya yang berbeda atau melengkapi ide dari siswa lain dan sebagai wahana untuk mengenal perbedaan pendapat yang berkembang di lingkungannya.

2. Langkah/tahapan:

a. Siswa berkelompok 4 sampai 5 kelompok. Masing-masing siswa mendapatkan satu lembar kartu/kertas.
b. Guru menyiapkan pertanyaan yang merangsang berpikir kritis baik melalui kuis atau tertulis.
c. Setiap siswa menuliskan jawaban di kartu tersebut. Siswa yang selesai menuliskan jawaban meletakkan kartu tersebut di tengah meja.
d. Setiap siswa menukarkan kartu miliknya dg kartu di meja kemudian membacanya lalu memberikan tanggapan sehingga setiap siswa membaca semua jawaban teman-temannya.
e. Guru meminta konfirmasi siswa dengan ungkapan kunci ‘andaikata’ (what if)…… apa yang terjeadi?



H. INKUIRI (DISCOVERY LEARNING)

1. Deskripsi

Inkuiri berarti siswa terlibat dalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan, mencari informasi, dan melakukan penyelidikan.Metode inkuiri adalah suatu cara menyampaikan pelajaran yang meletakkan dan mengembangkan cara berfikir ilmiah di mana siswa mengasimilasi suatu konsep atau prinsip, misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, mengukur, dan membuat kesimpulan dan sebagainya.Metode inkuiri bertujuan untuk memberikan cara bagi siswa untuk membangun kecakapan-kecakapan intelektual (kecakapan berpikir) terkait dengan proses-proses berpikir reflektif.

2. Tahapan

a. Kegiatan Awal (Pendahuluan): 15 menit

1) Guru membuka proses pembelajaran dengan memberi salam dan berdo’a,
2) Guru mengelola kelas (mengecek kesiapan, absensi, tempat duduk, dan perlengkapan lainnya),
3) Guru menyampaikan penjelasan tentang tujuan pembelajaran yang akan dicapai,
4) Guru menjelaskan tujuan pembelajaran dari materi yang akan dipelajari, yakni serta metode pembelajaran yang akan digunakan.
5) Guru melakukan appersepsi (sejauh mana peserta didik memahami hubungan pelajaran yang lalu dan atau konsep yang dimiliki dengan materi yang akan diajarkan)
6) Guru memberi motivasi peserta didik.
7) Guru membagi kelompok (setiap kelompok terdiri dari 4-5 orang dan duduk sesuai dengan kelompoknya) pembagian kelompok dilakukan secara acak.

b. Kegiatan Inti (90 menit)

1) Guru membagi materi atau isu (masalah) yang akan dipecahkan sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik (perumusan masalah) (5 menit)
2) Peserta didik (setiap kelompok) menetapkan jawaban sementara (hipotesis) terhadap isu atau masalah yang ditugaskan (10 menit)
3) Peserta didik (setiap kelompok) harus mencari dan menemukan konsep atau prinsip melalui proses penyelidikan untuk mengumpulkan data. (45 menit)
4) Peserta didik(setiap kelompok) membuat kesimpulan jawaban secara tertulis (15 menit)
5) Peserta didik mempresentasikan hasil temuannya. (30 menit)
6) Terjadinya proses tanya jawab
7) Mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi dari konsep atau data yang ditemukan.

c. Kegiatan Penutup (10 menit)

1) Guru memberi umpan balik dan penguatan materi di akhir pembelajaran.
2) Peserta didik menyimak penjelasan tentang topik materi pada pembelajaran selanjutnya, serta tugas yang diberikan guru terkait pembelajaran selanjutnya.
3) Mengajak semua peserta didik berdo’a untuk mengakhiri kegiatan pembelajaran.
4) Diakhir pembelajaran ada penguatan dari guru.


I. TEAMS GAMES TOURNAMENTS (TGT)

1. Deskripsi

TGT adalah model pembelajaran yang menitikberatkan pada pertandingan permainan kelompok. Teori ini dikembangkan oleh Slavin

2. Tahapan

a. Penyajian kelas
Pengelolaan kelas meliputi: pengkondisian tempat duduk, dan penyampaian tujuan.

b. Kelompok (team)
Pembentukan kelompok terdiri atas 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen.

c. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang di dapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.

d. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir pertemuan atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan dalam satu meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.

e. Team Recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi criteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40.


J. MARKET PLACE (MP)/ BELANJA MATERI

1. Deskripsi

Market Place merupakan metode pembelajaran berupa kegiatan pasar, dimana siswa dapat melakaukan aktivitas jual beli informasi. Terdapat kelompok siswa pemilik informasi untuk dijual kepada kelompok lain dan kelompok siswa yang membeli informasi. Informasi yang diperjualbelikan adalah materi yang dipelajari pada hari itu.

2. Tahapan

a. Setiap kelompok mempersiapkan barang yang akan dijual (pokok/sub pokok adalah hasil pembagian guru, masing-masing kelompok berbeda kontennya), Pada tahap ini siswa mengamati, menanya dan mengeksplorasi pokok/sub pokok bahasan melalui refferensi yang akurat antar sesama kelompok. Satu konten lebih dari satu referensi.
b. Barang yang dijual harus menarik (bisa meng
gunkan mind map, peta konsep, desain gambar dll). Siswa mengasosiasi dan mengomunikasikan hasil eksplornya melalui produk seperti mind map, peta konsep, desain gambar dll.
c. Setiap kelompok dibagi menjadi dua bagian (kelompok penjual dan kelompok pembeli) Kelompok penjual menjelaskan kehebatan produknya secara detail. Kelompok pembeli menilai atau mendengarkan penjelasan dan mencatatnya
d. Pembeli akan berkunjung ke stan penjual (diberi kesempatan 5-6 menit) Pembeli mengunjungi penjual dan mencatat apa yang dijelaskan penjual, ini harus dicatat karena pembeli ini harus menjelaskan kepada penjual di kelompoknya.
e. Pembeli menyampaikan laporan hasil kunjungannya kepada kelompoknya Pembeli menjelaskan hasil kunjungan kepada penjual dikelompoknya. Pembeli dan penjual menilai mana kelompok terbaik pada saat kunjungan dan dikunjungi.
f. refleksi


K. PROJECT BASED LEARNING (PBL)

1. Deskripsi

Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) adalah pembelajaran yang menggunakan proyek/kegiatan sebagai media. Peserta didik melakukan eksplorasi, penilaian, interpretasi, sintesis, dan informasi untuk menghasilkan berbagai bentuk hasil belajar

2. Tahapan

a. Pendahuluan Pelaksanaan Pembelajaran Berbasis Proyek
b. Penentuan Pertanyaan Mendasar (Start With the Essential Question).
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial, yaitu pertanyaan yang dapat memberi penugasan peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas. Mengambil topik yang sesuai dengan realitas dunia nyata dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam. Pengajar berusaha agar topik yang diangkat relevan untuk para peserta didik.
c. Mendesain Perencanaan Proyek (Design a Plan for the Project).
Perencanaan projeck dan monitoring dilakukan secara kolaboratif antara pengajar dan peserta didik. Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa “memiliki” atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek.
d. Menyusun Jadwal (Create a Schedule)
Pengajar dan peserta didik secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara lain: (1) membuat timeline untuk menyelesaikan proyek, (2) membuat deadline penyelesaian proyek, (3) membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru, (4) membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak berhubungan dengan proyek, dan (5) meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang pemilihan suatu cara.
e. Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor the Students and the Progress of the Project)
Pengajar bertanggungjawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan cara menfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain pengajar berperan menjadi mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.
f. Menguji Hasil (Assess the Outcome)
Penilaian dilakukan untuk membantu pengajar dalam mengukur ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing- masing peserta didik, memberi umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah dicapai peserta didik, membantu pengajar dalam menyusun strategi pembelajaran berikutnya.
g. Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate the Experience)
Pada akhir proses pembelajaran, pengajar dan peserta didik melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Pada tahap ini peserta didik diminta untuk mengungkapkan perasaan dan pengalamanya selama menyelesaikan proyek. Pengajar dan peserta didik mengembangkan diskusi dalam rangka memperbaiki kinerja selama proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya ditemukan suatu temuan baru (new inquiry) untuk menjawab permasalahan yang diajukan pada tahap pertama pembelajaran.


L. Information Search/Berburu Informasi

1. Deskripsi

Suatu cara yang digunakan oleh guru dengan maksud meminta peserta didik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan baik oleh guru maupun dari peserta didik sendiri. Kemudian mencari informasi jawabannya lewat membaca untuk menemukan informasi yang akurat.

2. Tahapan

a. Pembagian kelompok (4-5 orang).
b. Guru membagikan pertanyaan-pertanyaan kepada kelompok siswa untuk dicari jawabannya.
c. Peserta didik dalam kelompok mencari informasi di buku teks dan sumber belajar lain seperti Handout, Dokumen, Informasi dari internet, Perangkat keras (CD/DVD, dan alat-alat lain).
d. Tiap Kelompokmenyusun jawaban yang sudah didapatkan dari referensi.
e. Jawaban tiap kelompok didiskusikan.
f. Setiap peserta didik membuat kesimpulan hasil diskusi semua kelompok.

3. Kegunaan

a. Membiasakan peserta didik untuk membaca secara cermat.
b. Melatihberpikir kritis.
c. Membantu menghidupkan materi yang membosankanmenjadi lebih menarik.


M. STICKNAME

1. Deskripsi

Menjalankan kegiatan belajar mengajar dengan banyak melibatkan peserta didik secara merata baik secara lisan maupun tulisan dengan berpatokan kepada stick yang bertuliskan nama masing-masing peserta didik

2. Tahapan

a. Pembukaan pelajaran dengan berdoa
Menyiapkan doa yang akan dibaca dalam bentuk lembar kertas atau tayangan Salah satu peserta didik memimpin doa yang diikuti semua

b. Absen kesiapan peserta didik
Menanyakan kesiapan peserta didik mengikuti pelajaran dengan menggunakan stickname sebagai alat penunjukannya Menjawab sesuai yang difahami atau yang dibaca

c. Pengantar Materi Pelajaran
§ Telah menyiapkan bahan materi dengan media atau tidakmenyampaikan materi
§ Memperhatikan materi yang disampaikan guru

d. Tanggapan peserta didik secara lisan; memperhatikan tanggapan peserta didik
§ mencatat poin-poin penting di papan tulis
§ mengontrol jalannya tanggapan agar tidak terfokus pada satu dua anak saja dengan menggunakan stickname
§ Menanggapi apa yang difahami dari pengantar guru

e. Catatan poin-poin penting guru atas tanggapan peserta didik
§ Menguraikan lebih lanjut berkaitan dengan catatan poin-poin penting dari peserta didik
§ Memperhatikan uraian atau tanggapan guru

f. Tanggapan balik dari guru
§ Memfokuskan kembali diskusi yang telah dilakukan kepada topic pembahasan
§ Mengasosiakan apa yang difahami dengan uraian guru

g. Peserta didik menulis berdasarkan instruksi guru
§ Menyiapkan intruksi-instruksi yang akan dikerjakan peserta didik secara tertulis
§ Melaksanakan instruksi guru secara tertulis

h. Guru memberi penguatan materi
§ Menyiapkan alat/media yang dibutuhkan untuk penguatan materi
§ Menyampaikan penguatan materi -
§ Mencermati penguatan yang diberikan oleh guru
§ Menyimpulkan dari apa yang difahami dari proses KBM dari awal sampai akhir


N. QUESTION STUDENT HAVE

1. Deskripsi

Strategi Questions Student Have digunakan untuk mempelajari tentang keinginan dan harapan peserta didik sebagai dasar untuk mengoptimalkan potensi yang mereka miliki. Strategi ini menggunakan sebuah teknik untuk mendapatkan partisipasi peserta didik melalui tulisan. Hal ini sangat baik digunakan pada peserta didik yang kurang berani mengungkapkan pertanyaan, keinginan dan harapan-harapannya melalui percakapan.

2. Langkah-langkah

a. Sebelum pembelajaran dimulai terlebih dahulu dilakukan setting kelas dengan membagi kelompok (4-5 orang anggota).

b. Mengadakan pre tes sebelum pembelajaran dimulai, terkait dengan KD yang akan diajarkan.

c. Memberi penjelasan secara singkat tentang strategi dan tatacaraQuestions Student Have yang akan diterapkan

d. Peserta didik diberi waktu 20 menit untuk membaca materi pembelajaran pada buku panduan atau sumber belajar yang telah disiapkan.

e. Selanjutnya peserta didik diminta untuk menuliskan pertanyaan dari materi yang belum dipahami dengan diberi waktu 5 menit pada belangko lembar pertanyaan yang telah disiapkan.

f. Melalui aba-aba guru, masing-masing diminta untuk memberikan pertanyaan yang telah ditulis kepada teman dalam kelompoknya searah jarum jam untuk dibaca selanjutnya diberi tanda centang (Ö) jika pertanyaan tersebut juga ingin ditanyakan dan jika tidak diminta memberi tanda strip (-), diputar hingga blangko tersebut kembali kepada pemiliknya.

g. Pemilik lembar pertanyaan diminta menghitung tanda centang yang ada pada blangkonya dan dihitung jumlah tanda centang yang diperoleh di samping kanan pertanyaan.

h. Pertanyaan yang paling banyak mendapat tanda centang mendapat prioritas utama untuk dijawab. Cara yang dilakukan adalah peserta didik diminta mengacungkan tangan apabila guru menyebutkan jumlah-jumlah tertentu kemudian membacakan pertanyaannya.

i. Peserta didik lain diminta mengidentifikasi kemungkinan ada pertanyaan yang sama dari yang dibacakan.

j. Setelah pertanyaan dibacakan, maka kesempatan menjawab pertama diberikan kepada peserta didik yang tidak memberi tanda centang pada pertanyaan.

k. Semua kertas pertanyaan dikumpulkan, karena kemungkinan ada pertanyaan yang perlu dijawab pada pertemuan berikutnya, sekaligus untuk direkapitulasi dan diidentifikasi serta dihitung kuantitas dan kualitas pertanyaan masing-masing peserta didik.

l. Setelah selesai semua proses penerapan strategi pembelajaran dengan Questions Student Have, maka peserta didik diberi penilain pos tes untuk dua aspek, yaitu kognitif dan afektif.

m. Untuk aspek kognitif, peserta diberi tugas untuk mengerjakan soal-soal post test yang telah disiapkan.

n. Sedangkan penilain afektif, peserta didik diminta menilai teman satu bangku tentang perilaku pelaksanaan shalat sunnah berjamaah dan munfarid selama satu minggu ke belakang dengan cara memberi tanda centang pada kolom yang tersedia terhadap pernyataan yang telah dibuat.


O. PEMBELAJARAN DENGAN MODEL GRUP INVESTIGASI

1. Deskripsi

Group Investigationn merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.

2. Langkah-langkah

a. Tahap I: Mengidentifikasi topik dan membagi siswa ke dalam kelompok
Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk memberi kontribusi apa yang akan mereka selidiki. Kelompok dibentuk berdasarkan heterogenitas.

b. Tahap II: Merencanakan tugas.
Kelompok akan membagi sub topik kepada seluruh anggota. Kemudian membuat perencanaan dari masalah yang akan diteliti, bagaimana proses dan sumber apa yang akan dipakai.

c. Tahap III: Membuat penyelidikan.
Siswa mengumpulkan, menganalisis dan mengevaluasi informasi, membuat kesimpulan dan mengaplikasikan bagian mereka ke dalam pengetahuan baru dalam mencapai solusi masalah kelompok.

d. Tahap IV: Mempersiapkan tugas akhir.
Setiap kelompok mempersiapkan tugas akhir yang akan dipresentasikan di depan kelas.

e. Tahap V:Mempresentasikan tugas akhir.
Siswa mempresentasikan hasil kerjanya. Kelompok lain tetap mengikuti.

f. Tahap VI:Soal ulangan mencakup seluruh topik yang telah diselidiki dan dipresentasikan.


P. PROBLEM BASED LEARNING (BERFIKIR KRITIS)

1. Deskripsi

Pembelajaran ini menyajikan berbagai permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari sebagai sarana bagi peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan dan sekaligus mengembangkan kemampuan berfikir kritis. Masalah diberikan kepada peserta didik, sebelum peserta didik mempelajari konsep atau materi yang berkenaan dengan masalah yang harus dipecahkan. Masalah bisa disajikan dalam bentuk gambar, tulisan, film pendek atau power point.

2. Tahapan

a. Pembagian kelompok (4-5 orang)
b. Instruksi guru sangat jelas apa yang harus dilakukan siswa dan apa yang harus dilakukan guru
c. Membagikan materi dan melakukan penelaahan terhadap masalah-masalah yang akan dipecahkan.
d. Mengklarifikasi kesulitan yang diangkat dari masalah.
e. Peserta didik diajak menjawab pertanyaan tentang ”apa yang perlu kita ketahui tentang masalah yang kita hadapi? setelah melakukan diskusi dan konsultasi
f. Menyusun rencana tindakan yang didasarkan papada hasil temuan mereka
g. Belanja informasi
h. Peserta didik menyampaikan pengetahuan hasil pemecahan masalah (tulisan, gambar dll)
i. Penguatan oleh guru

1/29/17

SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

Tugas Mata Kuliah Kajian Kependidikan Islam

Oleh :
MAS’UD RUHUL
NPM: 20162550035

Dosen Pembina
Dr. H.Moch Tolchah, M.Ag.

PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER PENDIDIKAN ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA 2016


A. LATAR BELAKANG

Sejarah Pendidikan Islam adalah keterangan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari waktu ke waktu yang lain, sejak zaman lahirnya Islam sampai dengan masa sekarang. Pendidikan islam mempunyai sejarah yang panjang, dalam pengertian luas pendidikan islam berkembang seiring dengan kemunculan islam itu sendiri.[[1]]

Terbukti adanya catatan sejarah perjalanan perkembangan pendidikan Islam, yang dimulai dari periode klasik sampai dengan periode pertengahan dan modern.[[2]]

Oleh sebab itu periodesasi perjalanan Sejarah Pendidikan Islam sangat berpengaruh bagi kemajuan pendidikan Islam itu sendiri. Maka dari itu rumusan masalah yang akan di buat pemateri adalah


B. RUMUSAN MASALAH

1. Apakan pengertian dari Periodesasi Sejarah Islam ?
2. Bagaimana periodesasi Sejarah Pendidikan Islam pada periode klasik, pertengahan dan modern ?
3. Bagaimana periodesasi Sejarah Pendidikan Islam pada periade pertengahan?
4. Bagaimana periodesasi Sejarah Pendidikan Islam pada periade modern ?

C. TUJUAN

Untuk mengetahui Periodesasi Sejarah Pendidikan Islam, supaya kita lebih memahami arti sebenarnya bagaimana proses pendidikan Islam itu sendiri dari zaman awal datangnya Islam sampai zaman sekarang.


D. PEMBAHASAN

A. Pengertian Periodesasi Sejarah Pendidikan Islam

Sejarah berasal dari bahasa arab “ syajaratun” artinya pohon. Secara sistematik, sejarah sama seperti pohon yang mempunyai cabang dan ranting, bermula dari bibit, kemudian tumbuh dan berkembang , lalu layu dan tumbang.

Menurut definidi umum, kata sejarah berarti “ masa lampau umat manusia”. Dalam pengertian lain, sejarah adalah catatan berbagai pristiwa yang terjadi pada masa lampau.

Menurut Zuhairini kata sejarah dari bahasa arab yaitu tarikh , secara etimologi berarti ketentuan masa dan perhitungan tahun. Yang dimaksud ilmu tarikh adalah suatu pengetahuan yang gunanya untuk mengetahui keadaan-keadaan dan kejadian-kejadian yang telah lampau maupun yang terjadi dikalangan umat.

Periode peradaban Islam merupakan ciri bagi ilmu sejarah yang mengkaji pristiwa dalam konteks waktu dan tempat dengan tolak ukur yang bermacam-macam.

Jadi periodesasi peradaban Islam adalah ilmu sejarah atau pembabakan sejarah yang mengkaji perkembangan peradaban Islam dalam konteks dan tolak ukur tertentu.

Sejarah Pendidikan Islam pada hakikatnya tidak terlepas dari sejarah Islam. Oleh sebab itu sejarah Pendidikan Islam dapat dikatakan berada dalam periode-periode sejarah Islam itu sendiri. Secara garis besar Dr. Harun Nasution membagi sejarah islam kedalm tiga periode yaitu periode klasik, periode pertengahan, dan periode modern. Yang mencakup masa hidupnya nabi Muhammas SAW, masa khalifah Khulafaur Rasyidin, masa kekuasaan Umawiyah, masa kekuasaan Abbasiyah dan masa jatuhnya kekuasaan khalifah di Baghdad sampai sekarang. [[3]]

Definisi sejarah pendidikan Islam adalah kata pendidikan. Pendidikan dalam arti luas adalah bimbingan yang dilakukan oleh seseorang terhadp dirinya sendiri, seseorang terhadap orang lain atau oleh lingkungan terhadap seseorang. Pendidikan dalam arti sempit adalah bimbingan yang dilakukan seseorang yang kemudian disebut pendidik, terhadap orang lain yang kemudian disebut peserta didik.

Sejarah pendidikan Islam adalah proses pewarisan dan pengembangan budaya umat manusia di bawah sinar bimbingan ajaran Islam, yaitu yang bersumber dan berpedomankan ajaran Islam. [[4]]

B. Periodesasi Sejarah Pendidikan Islam pada Periode Klasik(650-1250M)

1. Pendidikan Islam di masa Nabi Muhammad SAW ( 571-632 M)

Sejak nabi Muhammad SAW diangkat menjadi rasul sebagai tana datangnya Islam sampai sekarang telah berjalan sekitar 14 abad lamanya. Pendidikan sejarah Islam mempunyai sejarah yang panjang dimulai sejak periode klasik.

Pendidikan Islam pada masa nabi Muhammad SAW merupakan sifat atau model yang pertama yang terus menerus dikembangkan umat islam untuk kepentingan pendidikan pada zamannya. Nabi Muhammad SAW mlakukan pendidikan islam setelah mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Sebagai mana tercantum di alam surat Al-Mudatsir ayat 1-7, menyeru yang berarti mengajak, mengajak berarti mendidik, dan dari wahyu yang mula-mula turun itu dapat disimpulkan, bahwa pendidikan Islam dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu :
a. Pendidikan Keagamaan
b. Pendidikan aqliyah dan Ilmiyah
c. Pendidikan ahlak dan budi pekerti
d. Pendidikan jasmani

Pada masa ini pendidikan islam diartikan pembudayaan ajaran Islam yaitu memasukan ajaran-ajaran Islam dan menjadikan sebagai unsur buadaya bangsa arab serta menyatu kedalamnya, denagan pembudayaan ajaran Islam kedalam sistemdan lingkungan budaya bangsa arab tersebut, maka terbentuklah sistem budaya Islam dalam lingkungan budaya bangsa arab.[[5]]


2. Pendidikan Islam di masa Khulafaur Rasyidin (632-661 M )

Setelah Rasulullah wafat, peradaban Islam memberi contoh bagaimana cara mengendalikan negara dengan bijaksana dalam politik yang mengandung hikmah berpikir, berhak, berprilaku yang berbau kelincahan dan kelicikan.

Setelah Rasulullah wafat pemerintahan Islam dipegang secara bergantian oleh Abu Bakar, Ummar bin Khattab, Ustman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Pada masa Abu Bakar pedal Pemerintahan di guncang oleh para pemberontak dari orang murtad, orang-orang yang mengaku nabi dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat, oleh sebab itu Abu Bakar memusatkan perhatian untuk memerangi pemberontakan-pemberontakan tersebut yang mana dapat mempengaruhi orang-orang Islam yang masih lemah imannya untuk menyimpang dari Islam.

Pada masa khalifah Ummar bin Khattab, situasi politik dalam keadaan stabil dan untuk pendidikan, untuk mengangkat guru-guru untuk bertugas untuk memajukan isi Al-Qur’an dan ajaran Islam kepada penduduk yang baru masuk Islam, Ummar juga memerintahkan panglima untuk masjid-masjid sebagai tempat ibadah sekaligus sebagai tempat belajar. Pada masa ini sudah terdapat pengajaran bahasa arab dengan itu orang-orang yang baru masuk Islam dari daerah atau wilayah lainnya harus belajar bahasa arab, jika mereka ingin belajar dan mendalami pelajaran Islam.

Pada masa khalifah Ustaman bin Affan kedudukan peradaban Islam dan pendidikan Islam tidak jauh berbeda dengan masa sebelumnya. Para sahabat diperbolehkan mennggalkan madinah untuk mengajarkan ilmu-ilmu yang di miliki. Proses pendidikan Islam pada masa ini sebagian besar memang diwarnai oleh pengajaran atau pembudayaan dan sunnah kedalam lingkungan budaya bangsa-bangsa secara luas pula. Begitu pula dalam pendidikan Islam tidak jauh berbeda di masa nabi Muhammad SAW yang menekankan pada pengajaran baca tulis dan ajaran-ajaran Islam oleh perhatian ummat Islam terhadap perluasan wilayah Islam dan terjadi gejolak politik, khususnya pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib.


3. Pendidikan Islam di masa Muawiyyah, Abbasiyyah dan kekhalifahan selanjutnya ( 661- 1250 M)

Dengan berakhirnya masa Khulafaur Rasyidin mulailah kekuasaan bani Umayyah. Adapun kemajuan pendidikan dan peradaban Abasiyyah mencapai kemajuan terutama pada khalifah Al-Mahdi ( 775-785 M ) dan puncak kejayaan terutama pada masa khalifah Al-Mahdi dan puncak popularitasnya baru setelah pemerintahan Harun Al-Rasyid (785-809 M) dan diteruskan putranya Al-Makmun (813-833 M )

Pada masa Muawiyyah ini ( dinasti bani Umayyah ) Abdul Malik merubah admisnistrasi dan bahasa yunani dan bahasa pahlawan kedalam bahasa Arab. Pada masa tahun 659 M beliau juga merubah mata uang bizantium dan persia seperti dinar dan dirham dengan memakai kata-kata dan tulisan Arab, dan pada masa inilah dimulai adanya ilmu Tafsir, Hadist, Fiqih dan ilmu Kalam, yang menjadi pusat dari kegiatan-kegiatan ilmiah kuffah dan basrah di Iraq. Pada masa dinasti Umayyah meninggalkan beberapa monument terbaik adalah kbah Al-Sakhr ( dome of the rock ) di Al-quds, masjid cardova yang dibangun. Pada tahun 750 M kekuasaan mereka menurun sehingga akhirnya di gantikan oleh bani abbasiyyah.

Di masa bani Abasyyah inilah ilmu pengetahuan dan filsafat yunani memuncak terutama di zaman Harun Al-Rasyid dan Al-Ma’mun. Buku tersebut didatangkan dari Bizantium. Yang kemudian di terjemahkan kedalam Bahasa Arab, kegiatan ini berlangsung selama satu abad. Adapun Bait Al-Hikmah merupakan tempat pusat penterjemah dan juga akademi yang mempunyai perpustakaan yang didirikan Al-Ma’mun.

Dimasa inilah untuk pertama kalinya alam sejarah terjadi kontak antara islam dengan kebudayaan barat/ yunani, adapun perguruan tinggi yang didirikan di zaman ini diantaranya adalah Al-Hikmah di Baghdad dan Al-Azhar di Kairo, yang hingga kini namanya masih harum sebagai Universitas Islam yang tertinggi di seluruh dunia.

Al-Ma’mun adalah khalifah yang banyak jasanya dalam penerjemahan. Ilmuan muslim ini membaca karya yunani sebagai motivasi untuk menggunakan logika dalam membahas ajaran Islam dan mengembangkan serta menemukan berbagai macam ilmu pengetahuan yang baru.

Melalui orang-orang kreatif seperti Al-Kindy, Al-Rozy, Al-Faraby, Ibnu Sina, Al-Ghozali, Ibnu Khaldun, Ibnu Thufail, dll. Pengetahauan Islam telah melakukan investigasi dalam ilmu kedokteran, tekhnologi, matematika, geografi dan sejarah.


C. Pendidikan Islam dalam Periode Pertengahan (1250-1800 M)

Islam dalam periode pertengahan dapt dibagi menjadi dua, yaitu :

1. Zaman kemunduran

Zaman ini berlangsung sekitar 250 tahun. Kemunduran ini di awali dengan hancurnya baghdad oleh hulaqohan. Dia membunuh semua keluarga khalifah, tetapi untunglah salah satu seorang anak khalifah Abasyyah bisa melarikan diri kemesir, lalu diangkat oleh sultan Mahluk menjadi khalifah yang berkedudukan di kota kairo.

Dengan demikian ibu kota alam islam berpindah ke Kairo, Mesir. Begitu juga pusat pendidikan pengajaran ke Kairo ke Al-Jami, Al-Azhar, sistem pengajaran saat itu ialah dengan menghafal matan-matan.


2. Zaman tiga kerajaan besar

Kerajaan besar yang dimaksud adalah kerajaan Usmani di Turki (1290-1924 M), kerajaan Safawi di Persia (1501-1736 M), dan kerajaan Maghon di India (1526-1858 M).

Pada kerajaan Usmani pendidikan mengalami kemunduran. Karena di sebabkan banyaknya para ulama dan guru-guru yang hanya mempelajari kaidah-kaidah ilmu agama dan bahasa arab, serta sedikit sekali mempelajari ilmu berhitung dan ilmu miqat. Mereka tidak terpengaruh oleh pergerakan ilmiah di Eropa. Demikianlah keadaan pendidikan pada masa kerajaan Usmani sampai jatuhnya sultan yang terakhir.

Sepanjang sejarah Islam Persia di kenal sebagai bangsa yang telah beradaban tinggi dan berjasa mengembangkan Ilmu pengetahuan. Sepeninggal raja Abbas I kondisi kerajaan Safawi tidak menunjukan grafik kenaikan dan berkembang, tetapi justru memperlihatkan kemunduran yang akhirnya membawa kehancuran. Dan berakhir pula ilmu pengetahuan di kerajaan Safawi di Persia

Ilmu pengetahuan di kerajaan Mughol di India antara lain kebahasaan Akbar Syah, yakni telah menjadikan tiga bahasa sebagai bahasa Nasional, yaitu bahasa arab sebagai bahasa agama, bahasa Turki sebagai bahasa bangsawan dn bahsa persia sebagai bahsa istana dan kesusastraan. Di bidang filsafat cukup maju dan satu di antara tokohnya adalah Akbar Syah, sementara ahli Tassawuf yang terkenal pada masa itu adalah Mubarok,Abdul Faidhl, dan Abul Fadl.

D. Periode Modern (1800 M- Sampai Sekarang)

Periode ini merupakan zaman kebangkitan Islam. Ekspedisi Napoleon di Mesir, membuka mata dunia Islam, akan kemunduran umat Islam di samping kemajuan barat, raja dan pemuka-pemuka Islam mulai berfikir untuk mengembalikan kejayaan umat Islam.

Dengan demikian timbulnya apa yang di sebut pemikiran dan aliran pembeharuan atau modernisasi dalam Islam. Pemuka-pemuka Islam mengeluarkan pemikiran-pemikiran untuk untuk membuat Islam kembali maju. Seperti yang dilakukan oleh Muhammad Ali Basyah setelah menguasai Mesir tahun 1805 M. Beliau membangun Al-Azhar kembali dan menghidupkan semangat para ulama dan belajar yang sebelumnya hampir menghilang. Beliau mengirim para ulama ke eropa untuk belajar ilmu kedokteran, ilmu teknik, kalam dll.



E. KESIMPULAN

Sejarah pendidikan Islam adalah proses pewarisan dan pengembangan budaya umat manusia di bawah sinar bimbingan ajaran Islam, yaitu yang bersumber dan berpedomankan ajaran Islam.


Sejarah pendidikan Islam adalah peristiwa atau cabang Ilmu pengetahuan mengenai pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari segi ide, konsep, lembaga operasionalisasi dari sejak zaman nabi Muhammmad SAW sampai sekarang, atau catatan pristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam sejak lahirnya sampai sekarang ini.


Periodesasi sejarah pendidikan Islam secara umum terbagi tiga periode yaitu periode klasik, priode pertengahan, dan periode modern, periode sejarah pendidikan Islam terkait dengan periodesasi peradaban Islam, karena di samping aspek pendidikan merupakan bagian dari peradaban Islam.





DAFTAR PUSTAKA


Zuhairini, dkk. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta : Bumi Aksara,2010
Azra Azyumardi. Pendidikan Islam. Jakarta : Kencana, 2012
M. Arifin..Ilmu Pendidikan Islam.Jakarta : Bumi Aksara,2008
Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010







[1] Azyumardi Azra, Pendidikan Islam ( Jakarta : Kencana,2012) 5
[2] Zuhairini, Sejarah Pendidikan Islam ( Jakarta : Bumi Aksara ,2010 ) 7
[3] Ibid,7
[4] Ibid,7
[5] Abuddin Nata, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2010). 139

1/23/17

Selayang Pandang Tugas Akhir

TUBUH UTAMA TUGAS AKHIR 
Oleh:
Ahmad Fathullah

1. Bagian Tubuh Utama

Dalam tubuh utama tugas akhir, keseluruhan isi tubuh utama sepenuhnya adalah tanggung jawab mahasiswa dan pembimbing. Tubuh utama dibagi menjadi beberapa bab, diawali dengan bab pendahuluan dan di akhiri dengan daftar pustaka. Jumlah bab tidak distandarkan, melainkan menurut keperluan mahasiswa yang wajar dalam mengemukakan tugas akhirnya.

2. Bab Pendahuluan

Bab pendahuluan sedikitnya memuat (boleh dirinci dalam bentuk sub bab) hal – hal berikut :
(1) Dekskripsi topik kajian dan latar belakang
(2) Masalah yang dikaji (statement of the problem), tujuan, dan lingkup permasalahannya
(3) Cara pendekatan dan metode penelitian yang digunakan
(4) Sistematika (outline) tugas akhir

Judul bab, yaitu pendahuluan yang ditulis dengan huruf kecil kecuali huruf pertama, di cetak sejajar dengan Bab I tanpa titik di belakang huruf akhir dan diletakkan secara simetrik (centeret) pada halaman.

3. Bab Tinjauan Pustaka

Bab tinjauan pustaka berisi uraian tentang alur pikir dan perkembangan keilmuan topik kajian. Pada hakikatnya, hasil penelitian seorang peneliti bukanlah satu penemuan baru yang berdiri sendiri melainkan sesuatu yang berkaitan dengan hasil penelitian sebelumnya. Dengan tinjauan pustaka ini mahasiswa juga ingin menunjukan bahwa ia menguasai ilmu pengetahuan yang mendasari atau terkait dengan permasalahan yang dikaji

Tinjauan hendaklah disusun sesuai dengan urutan perkembangan cabang ilmu pengetahuan yang dikandungnya. Tinjauan pustaka berisi pula ulasan tentang kesimpulan yang terdapat dalam setiap judul dalam daftar pustaka dan dalam hubungan ini mahasiswa menunjukkan mengapa dan bagaimana dipilihnya topik kajian serta arah yang akan dittempuhnya dalam menyelesaikan pembahasan atau penyelesaian topik kajian tersebut. Bila dipandang perlu untuk tinjauan pustaka dapat disisipkan pada bab – bab isi (sesuai dengan keperluan penulisan dan kelaziman pada masing – masing disiplin keilmuan), dan tidak harus ditulis dalam bab terpisah.


4. Bab – Bab Dalam Tubuh Utama Tugas Akhir

Jimlah bab disesuaikan dengan keperluan. Dalam bab – bab tersebut diuraikan secara rinci, cara dan pelaksanaan kerja, hasil pengamatan, percobaan, atau pengumpulan data dan informasi lapangan, pengolahan data dan informasi, analisis dan pembahasan data dan info tersebut serta pembahasan hasil (discussion)

5. Bab Kesimpulan

Bab ini memuat elaborasi dan rincian kesimpulan yang dituliskan pada abstrak. Saran untuk kajian lanjutan serta practical implication dari kerja mahasiswa dapat dituliskan pada bab ini, setiap bab dimulai pada halaman baru


DAFTAR PUSTAKA

Daftar pustaka bukanlah bab tersendiri. Oleh karena itu tidak diberi nomer bab. Daftar pustaka ditulis pada halaman baru dan judul DAFTAR PUSTAKA dicetak 3 cm di bawah batas atas halaman, dengan huruf kapital tanpa titik dibelakang huruf terakhir. Ada beberapa caara untuk menuliskan daftar pustaka, tetapi cara yang diusulkan untuk dijadikan format adalah cara yang akan diuraikan berikut ini. Daftar pustaka berisi semua pustaka yang digunakan mahasiswa dalam menyiapkan dan menyelesaikan tugas akhirnya. Semua pustaka yang tercantum pada daftar pustaka harus benar – benar dirujuk dalam penulisan tugas akhir.

Daftar pustaka terdiri atas makalah dan buku yang diterbitkan dan lazimnya dapat ditemukan diperpustakaan, pustaka yang mengambil halaman website internet merujuk pada aturan yang berlaku di depertemen masing – masing, tugas akhir, tesis, dan disertasi termasuk dalam daftar pustaka sebab, meskipun tidak diterbitkan, pada umumnya dapat ditemukan diperpustakaan. Sumber – sumber yang tidak diterbitkan tidak dimuat dalam daftar pustaka, tetapi dicantumkan pada catatan kaki (foot – note) pada halaman bersangkutan. Buku ajar (texbook) yang dimuat dalam daftar pustaka supaya diusahakan pustaka yang paling mutakhir. Pustaka yang berupa makalah di majalah ditulis sebagai berikut :

1/15/17

HADITS AHAD

HADITS AHAD
Tugas Mata Studi Hadits 


Oleh :
Ahmad Fathullah
20162550005


Dosen Pembimbing:
Muhammad Hambal Shofwan, Lc, M.Pd.I


PROGRAM PASCA SARJANA MAGISTER STUDI ISLAM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA 2016




BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hadis sebagai sumber hukum Islam yang kedua setelah Al-Qur’an, tidak dapat diragukan lagi. Dalam proses dan perkembangan selanjutnya para ulama hadist melakukan upaya serius berupa penyeleksian terhadap hadist dengan menilai para perawi hadist dari berbagai thabaqat secara ketat. Setelah proses ini pun dilalui, hadist tidak secara otomatis selamat dan langsung dipakai atau dijadikan rujukan dalam penetapan hukum Islam. Hadist terus dievaluasi sehingga nyaris tidak ada suatu disiplin ilmu yang tingkat kehati-hatiannya dalam merujuk sumber, seteliti seperti yang dialami ilmu hadist. Para Ulama Hadits demikian ketat melakukan seleksi terhadap hadist. Setelah diukur dari sisi bilangan sanad yang menghasilkan hadist mutawatir dan ahad dengan berbagai pencabangannya. Oleh karena itu, dalam makalah ini penulis akan memaparkan tentang Hadits Ahad.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu Hadits Ahad ?
2. Apa saja Macam – Macam Hadits Ahad ?
3. Bagaimana Kehujjahan Hadits Ahad ?

C. Tujuan

1. Mengetahui pengertian hadits ahad
2. Mengetahui Macam – Macam Hadits Ahad
3. Mengetahui Kehujjahan Hadits Ahad



BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN HADITS AHAD

Menurut bahasa kata “ahad” bentuk plural (jama’) dari kata “ahad” yang berarti: satu (hadist wahid) berarti hadis yang diriwayatkan satu perawi.

Menurut istilah, hadits ahad adalah Hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk menjadi hadis mutawwatir[1]
Maka, hadist ahad adalah hadist yang diriwayatkan oleh beberapa perawi yang jumlahnya tidak mencapai batasan hadist mutawwatir. Mayoritas hadist yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW dan terdapat dalam kitab-kitab referensi adalah jenis hadist ahad.[2]

Hadist ahad memiliki nilai “nadhariy”. Yakni ia masih merupakan ilmu yang masih memerlukan penyelidikan dan pembuktian lebih lanjut.[3]

Menurut Ibn Ash-Shalah, riwayat perawi tunggal tsiqah (Hadist gharib dan hadist fard) diklasifikasi ke dalam tiga kategori:

Pertama, riwayat perawi tsiqah yang bertentangan dengan riwayat yang lebih tsiqah. Riwayat seperti ini harus ditolak dan dianggap syadzdz. Kedua, riwayat perawi yang bertentangan dengan riwayat perawi tsiqah lainnya. Riwayat jenis ini diterima. Ketiga, riwayat yang berada diantara dua jenis kategori di atas. Contoh, menambah sebuah kata dalam hadist yang tidak disebutkan oleh semua perawi lain yang turut meriwayatkan hadist tersebut. Seperti hadist yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi’ dari Ibnu Umar, “Anna rasul Allah faradha zakat al-fithr min ramadhan ala kulli hurrin au ‘abdin dzakarin au untsa min al-muslimin”. Dilaporkan bahwa Malik adalah satu-satunya perawi diantara para perawi yang menambah kata “min al-muslimin”.

Ubaidillah Ibn Umar, Ayyub dan lain-lain meriwayatkan hadist tersebut dari Nafi’ tanpa tambahan tersebut. Untuk kategori ketiga ini, Ibn Ash-Shalah tidak memberikan penilaian sama sekali. Al-Khathib Al-Baghdadi tidak keberatan dengan tambahan tersebut, dengan syarat dilakukan oleh perawi yang tsiqah. Dalam hal ini, ia bahkan mengklaim mengikuti pendapat mayoritas fukaha dan ahli hadist. Menurut Ibn Katsir (701-774), tambahan yang dilakukan oleh perawi tsiqah diterima oleh mayoritas fukaha dan ditolak oleh mayoritas para ahli hadist. Namun, At-Tarmidzi dalam Al-‘Ilal menganggap shahih apabila tambahan tersebut dilakukan oleh orang yang kuat hafalannya (dhabith).

Hadist gharib atau fard (tunggal) dapat diketahui melalui tiga cara: 1) dari aspek lokalitas, hadist tersebut diriwayatkan oleh perawi tunggal dari sebuah daerah; 2) perawi tunggal dari seorang imam yang terkenal; 3) perawi dari sebuah daerah tertentu meriwayatkan hadist dari orang Madinah. Al-Khitab Al-Baghdadi, Ibn Ash-Shaleh, As-Suyuthi, dan Ibn Katsir mengikuti pendapat Asy-Syafi’I bahwa keshahihan sebuah riwayat tunggal tergantung pada ke-tsiqah-an perawinya. Dengan kata lain, untuk menilai ke-tsiqah-an hadis gharib tergantung pada apakah hadist tersebut memenuhi syarat-syarat hadist shahih ataukah tidak. Jadi, historitis riwayat pada dasarnya ditentukan oleh kualitas perawi. Jumlah perawi dalam setiap tingkatan adalah penting, tetapi tidak menentukan historisitas dan kepalsuan riwayat tersebut. Dengan kata lain, status “ketunggalan” perawi tsiqah dalam setiap tingkatan tidak berarti bahwa riwayatnya tertolak atau palsu.[4]

Jumlah periwayat yang terlibat pada hadist ahad untuk setiap (tsabaqah) sanadnya tidak sebanyak jumlah periwayat pada hadist mutawwatir. Akibatnya, tingkat keakuratan riwayat hadist ahad tidak setinggi hadist mutawwatir. Untuk hadist mutawatir tingkat keakuratan riwayatnya mencapai qath’i (meyakinkan kebenaran beritanya), sedang untuk hadist ahad, tingkat keakuratan riwayatnya hanya mencapai zhanni (dugaan keras). Karenanya, untuk mengetahui apakah wurud (kedatangan) hadist ahad dapat dipercaya ataukah tidak, maka terlebih dahulu sanad dan matannya harus diteliti. Untuk hadist mutawatir, penelitian yang demikian itu tidak diperlukan karena sudah pasti kebenaran wurud-nya.[5]

B. MACAM – MACAM HADITS AHAD

Hadist ahad bila ditinjau dari segi jumlah perawi dalam sanadnya dibagi menjadi 3 macam, yaitu Hadist Masyhur, Hadist Aziz, dan Hadist Gharib.

1. Hadits Masyhur

Hadist masyhur menurut bahasa yaitu kata “Masyhur” berbentuk isim maf’ul dari kata “syaharats Al-Amru” yang berarti sesuatu yang telah terkenal setelah disebarluaskan dan ditampakkan dipermukaan.[6]

Hadist masyhur adalah hadist yang diriwayatkan oleh lebih dari tiga perawi dan belum mencapai batasan mutawatir. Apabila dalam salah satu thabaqahnya (jenjang) dari thabaqat sanad terdapat tiga perawi maka hadist tersebut dikategorikan hadist masyhur, sekalipun pada thabaqah sebelum atau sesudahnya terdapat banyak perawi.[7]

Hadist masyhur terbagi ke dalam dua bagian. Pertama, hadist masyhur yang shahih, hasan, dan dha’if. Kedua, hadist masyhur yang hanya dikenal dikalangan terbatas, seperti hadist yang populer dikalangan ahli hadist atau hadist yang telah cukup populer dikalangan masyarakat.

Di antara kelompok hadist masyhur adalah hadist mutawatir yang hanya populer, misalnya dalam disiplin ilmu fiqih dan ushul fiqih, di mana hadist itu tidak pernah disebutkan secara khusus oleh ahli hadist. Hadist seperti ini sedikit sekali dan hampir tidak ditemukan pada periwayatan-periwayatan ahli hadist. Hadist ini seperti pada hadist yang dinukil oleh seseorang yang memperoleh ilmu dengan kejujuran, sesuai kebutuhan dari orang-orang yang selevel dengannya, mulai dari awal sanadnya sampai akhir sanadnya.

Karenanya hadist Man kadzaba ‘alayya muta’ammidan falyatabawwa maq’adahu min al-nar (Barangsiapa yang berdusta pada ku secara sengaja, maka bersiaplah untuk menempati tempat tinggalnya yang telah disiapkan untuknya nanti di neraka) adalah hadist mutawatir. Dan hadist Innama al-a’malu bi al-niyyat (Sesungguhnya semua amal perbuatan itu tergantung pada niatnya), menurut sudut pandang ini, adalah bukan hadist mutawatir.[8] Hadis Nabi SAW:
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ

“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu sekaligus mencabutnya dari hamba” {Bukhari}.

Hukum hadist masyhur adakalanya shahih, hasan, atau dha’if bahkan ada yang bernilai maudhu’. Akan tetapi hadist masyhur yang berkualitas shahih memiliki kelebihan untuk ditarjih (diunggulkan) bila ternyata bertentangan dengan hadist aziz dan hadist gharib.[9]

2. Hadits Aziz

Hadist aziz adalah hadist yang diriwayatkan oleh dua atau tiga perawi dalam salah satu thabaqahnya. Ini adalah definisi Ibn Shalah dan diikuti pula oleh Imam Nawawi. Hadist riwayat dua atau tiga perawi dapat dikategorikan aziz. Ibn Hajar lebih condong pada riwayat dua orang untuk definisi aziz dan tiga orang untuk definisi masyhur.

Contoh hadist yang dikategorikan aziz, di antaranya:
لا يؤمن احدكم حتي أكون أحب إليه من والده و الناس اجمعين

Artinya: Belum sempurna iman seseorang jika ia belum mencintaiku melebihi cintanya kepada orang tuanya, anaknya dan semua orang.

3. Hadits Gharib

Hadist gharib adalah hadist yang hanya diriwayatkan oleh satu orang dalam salah satu thabaqahnya. Dinamakan demikian karena ia nampak menyendiri, seakan-akan terasing dari yang lain atau jauh dari tataran masyhur apalagi mutawatir. Ibarat orang yang pergi jauh terasing dari sanak keluarganya.



C. KEHUJJAHAN HADITS AHAD

Hadist ahad dengan pembagiannya terkadang dapat dihukumi shahih, hasan, atau dha’if bergantung pada syarat-syarat penerimaan hadist. Adapun kehujjahan hadist ahad, jumhur ulama sepakat bahwa hadist ahad dapat dijadikan sebagai hujjah, selama hadis tersebut masuk kategori hadist maqbul, atau memenuhi syarat diterimanya hadist.

Para ulama banyak memberikan bukti tentang kehujjahan hadist ahad. Di antara dalil-dalil yang mereka gunakan adalah:

a. Sejarah membuktikan bahwa Rasulullah SAW tatkala menyebarkan Islam kepada para pemimpin negeri atau para raja, beliau menunjuk dan mengutus satu atau dua orang sahabat. Bahkan beliau pernah mengutus dua belas sahabat untuk berpencar menemui dua belas pemimpin saat itu untuk diajak menganut Islam. Kasus ini membuktikan bahwa khabar yang disampaikan atau dibawa oleh satu dua orang sahabat dapat dijadikan hujjah. Seandainya Rasulullah menilai jumlah sedikit tidak cukup untuk menyampaikan informasi agama dan tidak dapat dijadikan sebagai pedoman niscaya beliau tidak akan mengirim jumlah sedikit tersebut. Demikian kata Imam Syafi’i.

b. Dalam menyebarkan hukum syar’i, kita dapatkan juga bahwa Rasulullah mengutus satu orang untuk mensosialisasikan hukum-hukum tersebut kepada para sahabat yang kebetulan tidak mengetahui hukum yang baru ditetapkan. Kasus pengalihan arah kiblat yang semula menghadap Baitul Maqdis di Palestina kemudian dipindah ke arah kiblat (Ka’bah) di Mekkah. Info pengalihan seperti ini disampaikan oleh seorang sahabat yang kebetulan bersama Nabi SAW kemudian datang ke salah satu kaum yang saat itu sedang melaksanakan shalat subuh lalu memberitahukan bahwa kiblat telah diubah arah. Mendengar informasi seperti itu spontan mereka berputar arah untuk menghadap ke Ka’bah padahal mereka tidak mendengar sendiri ayat yang turun tentang hal itu. Imam Syafi’i mengatakan, seandainya khabar satu orang yang dikenal jujur tidak dapat diterima niscaya mereka tidak akan menggubris informasi pemindahan arah kiblat tersebut.

c. dalil yang digunakan Imam Syafi’i untuk membuktikan kehujjahan hadist ahad adalah hadist yang berbunyi:
نضر الله امرا سمع منا شيئا فبلغه كما سمع فرب مبلغ أوعي من سامع

Artinya: Semoga Allah membaguskan wajah orang yang mendengar dari kami sebuah hadis lalu ia menyampaikannya sebagaimana ia dengar, bias jadi orang yang disampaikan lebih memahami dari pada orang yang mendengar.

Anjuran Rasulullah SAW untuk menghafal lalu menyampaikan pada orang lain menunjukkan bahwa khabar atau hadist yang dibawa orang tersebut dapat diterima dan sekaligus dapat dijadikan sebagai dalil. Di sisi lain hadist yang disampaikan itu bisa berupa hukum-hukum halal haram atau juga berkaitan dengan masalah aqidah. Dengan demikian hadist dapat dijadikan sebagai hujjah dalam berbagai masalah selama memenuhi kriteria shahih.[10] Namun demikian, pembelaan kaum ahlu sunnah wa al jama’ah terhadap hadist ahad, bukan berarti tanpa alasan. Mereka yakin bahwa memanfaatkan hadist sekalipun ahad, jauh lebih bernilai dibandingkan dengan ketiadaan rujukan dalam penetapan hukum.[11]



BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Pada bab penutup ini, penulis Menyimpulkan bahwa:

1. Hadist ahad adalah hadist yang diriwayatkan oleh beberapa perawi yang jumlahnya tidak mencapai batasan hadist mutawwatir.

2. Hadist ahad bila ditinjau dari segi jumlah perawi dalam sanadnya dibagi menjadi 3 macam, yaitu Hadist Masyhur, Hadist Aziz, dan Hadist Gharib.

3. Hadist ahad dengan pembagiannya terkadang dapat dihukumi shahih, hasan, atau dha’if bergantung pada syarat-syarat penerimaan hadist. Adapun kehujjahan hadist ahad, jumhur ulama sepakat bahwa hadist ahad dapat dijadikan sebagai hujjah, selama hadis tersebut masuk kategori hadist maqbul, atau memenuhi syarat diterimanya hadist.




DAFTAR PUSTAKA

Al-Nawawi, Imam. Dasar-dasar Ilmu Hadist. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001)
Ismail, M. Syuhudi. Ulumul Hadist I-IX. (Jakarta: DITBINPERTA Islam, 1993)
Kamaruddin, Amin, Phil, H, Metode Kritik Hadist. (Jakarta:Hikmah, 2009)
Smeer, Zeid, B, Ulumum Hadist Pengantar Studi Hadist Praktis. (Malang, UIN- Malang Press)
Thahhan, Mahmud. Intisari Ilmu Hadist. (Malang:UIN-Press, 2007)
Usuf Saefullah, dan Cecep Sumarna, Pengantar Ilmu Hadist. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004)





_____________________________________
[1] Mahmud Thahhan. Intisari Ilmu Hadist. (Malang:UIN-Press, 2007), 36
[2] Zeid B. Smeer. Ulumum Hadist Pengantar Studi Hadist Praktis. (Malang, UIN- Malang Press), 43
[3] Mahmud Thahhan. Intisari Ilmu Hadist..36
[4] Phil. H. Kamaruddin Amin, MA. Metode Kritik Hadist. (Jakarta:Hikmah, 2009), 36-37
[5] M. Syuhudi Ismail. Ulumul Hadist I-IX. (Jakarta: DITBINPERTA Islam, 1993), 36
[6] Mahmud Thahhan. Intisari Ilmu Hadist..36
[7] Zeid B. Smeer. Ulumum Hadist Pengantar Studi Hadist Praktis. 42
[8] Imam Al-Nawawi. Dasar-dasar Ilmu Hadist. (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2001), 115-116
[9] Mahmud Thahhan. Intisari Ilmu Hadist… 40-50
[10] Zeid B. Smeer. Ulumum Hadist Pengantar Studi Hadist Praktis…………..44-48
[11] usuf Saefullah, dan Cecep Sumarna, Pengantar Ilmu Hadist. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004). 68

About

Ahmad Fathullah, M.Pd.
Pendidikan • Keislaman • Muhammadiyah • Pengabdian
Surabaya, Jawa Timur
WhatsApp  •  Email
Facebook  •  Instagram: @a.fathullah94